POJOKSATU.id– Aceh digegerkan dengan lonjakan harga daging sapi yang mencapai Rp 300 ribu per kilogram, angka yang disebut sebagai salah satu yang tertinggi di Indonesia saat ini.

Pernyataan itu disampaikan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), setelah meninjau langsung kondisi pasokan pangan pascabencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Tanah Rencong.

Kenaikan harga daging ini bukan tanpa sebab. Banjir yang terjadi sejak akhir tahun lalu menyebabkan ribuan ternak milik warga mati terseret arus.

Baca Juga: Tanpa Anggaran Daerah, Semangat Gotong Royong Warga Tapos Sukses Hidupkan UMKM

Kondisi ini membuat pasokan daging di berbagai kabupaten di Aceh menurun drastis.

Data resmi dari Dinas Perkebunan dan Peternakan Aceh Timur mencatat 17.871 hewan ternak mati, mulai dari ayam, sapi, kambing, hingga domba.

Guncangan di sektor peternakan itu membuat harga daging meroket tak terkendali.

Baca Juga: Diskon Listrik 2026 Cair? Ini Rumah Tangga yang Berhak dan Besaran Potongannya

Dalam situasi normal, harga daging sapi di Aceh berada di kisaran Rp 160 hingga Rp 200 ribu per kilogram. Namun pascabanjir, harga melesat hingga menyentuh Rp 300 ribu.

Sebagian pedagang bahkan mengaku kesulitan mencari stok sapi hidup karena banyak peternak kehilangan ternaknya.

"Jadi daging yang termahal di seluruh Indonesia di Aceh, Pak, hari-hari biasa sampai 200 ribu per kilo Pak"

Baca Juga: Tanpa Anggaran Daerah, Semangat Gotong Royong Warga Tapos Sukses Hidupkan UMKM

"mungkin dalam keadaan ini sampai Rp 300 (ribu) Pak. Karena banyak ternak yang (jadi) korban,"

Ucap Mualem dalam rapat koordinasi penanganan pascabencana bersama DPR dan pemerintah di Aceh, dikutip pojoksatu.id dari kumparan (30/12/2025).

Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah telah meminta bantuan kepada pemerintah pusat untuk memasok sapi dan daging guna menstabilkan harga.

Di Pasar Peunayong, Banda Aceh, suasana terlihat penuh keluhan.

Para pembeli membicarakan kenaikan harga yang dianggap sulit dicerna.

Baca Juga: Budiman Sudjatmiko Ajukan Data Tunggal Bansos Lewat DTSEN, Ini yang Bikin Heboh

Sebagian terpaksa mengurangi konsumsi daging, sementara pedagang mengaku sulit memastikan harga karena stok tidak menentu.

Situasi ini diperparah dengan gangguan di sektor perikanan. Banjir dan cuaca ekstrem membuat banyak nelayan di Aceh tidak bisa melaut.

Gelombang tinggi dan angin kencang membuat laut berbahaya.

Baca Juga: Tanpa Anggaran Daerah, Semangat Gotong Royong Warga Tapos Sukses Hidupkan UMKM

Kondisi itu akhirnya menekan pasokan ikan. Laporan Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh menyebut harga ikan di beberapa pasar melonjak hingga 120 persen.

Artinya, dua sumber protein utama masyarakat Aceh daging dan ikan kini sama-sama berada dalam kondisi tidak stabil.

Warga pun berada pada posisi yang terjepit. Bagi sebagian masyarakat yang ekonominya terganggu akibat bencana, situasi ini terasa makin berat.

Baca Juga: Budiman Sudjatmiko Ajukan Data Tunggal Bansos Lewat DTSEN, Ini yang Bikin Heboh

Pemerintah Provinsi Aceh memastikan terus melakukan langkah-langkah darurat untuk menormalkan pasokan.

Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah mendatangkan sapi potong dari luar daerah, mempercepat distribusi bantuan pakan ternak.

Serta menginventarisasi peternakan yang rusak agar dapat mendapat intervensi cepat..

Hingga kini, harga daging di Aceh masih bertahan di level tinggi dan belum menunjukkan tanda penurunan signifikan.

Pedagang berharap kiriman sapi dari luar daerah bisa segera datang agar aktivitas perdagangan kembali normal.

Sementara masyarakat berharap pemerintah bisa bergerak cepat agar harga kebutuhan pokok tidak semakin memberatkan.

Baca Juga: Budiman Sudjatmiko Ajukan Data Tunggal Bansos Lewat DTSEN, Ini yang Bikin Heboh

Situasi ini menjadi pengingat bahwa dampak banjir tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga mengguncang stabilitas pangan daerah.

Aceh masih berjuang keras untuk bangkit setelah bencana, dan pemulihan sektor peternakan menjadi salah satu langkah penting demi menormalkan harga daging di pasar.***