POJOKSATU.ID - Banjir yang kembali melanda sejumlah wilayah di Kalimantan memunculkan pertanyaan lama yang belum juga mendapat jawaban tegas.

Benarkah ini murni bencana alam, atau ada jejak aktivitas manusia yang turut memperparah keadaan?

Warga dan relawan di berbagai daerah terdampak mulai angkat suara.

Baca Juga: Tragedi Malam di Manado, Kebakaran Panti Werda Damai 16 Korban Jiwa Berjatuhan

Mereka menilai banjir yang terus berulang bukan lagi sekadar akibat curah hujan tinggi, melainkan dampak dari aktivitas pertambangan yang kian masif dan minim pengendalian.

“Hujan memang turun, tapi dulu tidak begini. Sekarang sedikit hujan saja, air langsung naik,” ujar seorang relawan lingkungan yang terlibat dalam evakuasi warga terdampak banjir, dikutip dari instagram pojoksatu.id.

Menurut warga, perubahan bentang alam di kawasan hulu menjadi faktor utama. Hutan yang dulu berfungsi sebagai penyangga air kini banyak yang gundul.

Baca Juga: Digeret Polisi Usai Viral! Samuel Pembeli Tanah yang Usir Nenek 80 Tahun Ditangkap Polda Jatim

Tanah dikeruk, vegetasi hilang, dan aliran sungai berubah bentuk. Akibatnya, daya serap tanah melemah drastis.

Saat hujan turun, air tidak lagi tertahan. Sungai meluap, drainase tak mampu menampung, dan permukiman warga menjadi sasaran paling awal.

Banjir pun berubah menjadi agenda tahunan yang selalu datang tanpa undangan.

Baca Juga: Heboh Bantuan Bencana Banjir Belum Cair, Tito Jelaskan Fakta Sebenarnya Sebut Data Korban Belum Lengkap

“Kalau hutan masih ada, air itu diserap. Sekarang tanahnya keras, airnya lari ke mana-mana,” kata warga lainnya dengan nada getir.

Ironisnya, di tengah penderitaan warga, aktivitas tambang disebut-sebut tetap berjalan.

Alat berat terus bekerja, sementara masyarakat di hilir harus berjibaku menyelamatkan rumah, harta benda, bahkan nyawa.

Baca Juga: Jika Single Salary Diterapkan, Segini Perkiraan Gaji ASN dan PPPK

Warga menilai ada ketimpangan yang nyata. Keuntungan ekonomi mengalir ke segelintir pihak, sementara dampak lingkungan harus ditanggung masyarakat kecil.

Rumah terendam, ladang rusak, dan aktivitas ekonomi lumpuh setiap kali banjir datang.

“Kami yang kebanjiran, mereka yang menikmati hasilnya,” ucap seorang warga dengan nada menyindir.

Baca Juga: TPG THR Guru 2025 Tidak Merata, Ini Penjelasan Kemenkeu soal 333 Daerah dan Langkah yang Bisa Dilakukan Guru

Para relawan lingkungan juga menyoroti lemahnya pengawasan terhadap aktivitas tambang.

Mereka mendesak pemerintah untuk tidak lagi menutup mata dan menjadikan banjir sebagai alarm serius atas kerusakan ekosistem yang terjadi.

Bagi warga Kalimantan, banjir bukan hanya soal air yang naik, tetapi tentang masa depan lingkungan dan keberlangsungan hidup.

Baca Juga: Resmi! Bupati Sumenep Larang ASN Gunakan Mobil Dinas untuk Libur Tahun Baru 2026

Selama hutan terus ditebang dan tanah terus dikeruk tanpa kontrol ketat, banjir dikhawatirkan akan terus menjadi cerita berulang.

Kini, warga hanya bisa berharap suara mereka tidak kembali tenggelam bersama surutnya air.

Sebab, jika penyebabnya terus diabaikan, banjir bukan lagi sekadar musibah, melainkan konsekuensi yang dipelihara.***