POJOKSATU.ID - Beredarnya video dan foto kaos bergambar Presiden Prabowo Subianto dengan narasi bertema kampanye di wilayah terdampak bencana Aceh memicu gelombang kritik dari warganet.
Konten tersebut viral di berbagai platform media sosial karena dinilai tidak menunjukkan empati terhadap kondisi masyarakat yang tengah berada dalam situasi darurat.
Dalam rekaman video yang beredar luas, terlihat sejumlah orang mengenakan kaos bertuliskan “Kerja Keras” dengan ilustrasi wajah Presiden Prabowo Subianto.
Unggahan tersebut disertai keterangan bernuansa kampanye yang kemudian menuai reaksi keras dari publik.
Banyak warganet menilai kemunculan atribut bermuatan politik di lokasi bencana sebagai tindakan yang tidak sensitif, mengingat warga Aceh masih berjibaku dengan dampak kerusakan infrastruktur dan keterbatasan bantuan.
Salah satu kritik datang dari warga Aceh bernama Humaira. Ia menyampaikan kekecewaannya melalui komentar yang ikut viral di media sosial.
Baca Juga: SKTP Belum Terbit Bukan Akhir Segalanya, Ini Penjelasan Aturan TPG dan Saran Agar Hak Tetap Aman
“Kerasnya sekeras apa? Malu sama hastag,” tulis Humaira, tulis akun Instagram @respons.media, seperti dikutip pojoksatu.id.
Komentar itu mewakili sentimen publik yang mempertanyakan urgensi penyebaran simbol politik di tengah kondisi warga yang masih membutuhkan bantuan kemanusiaan.
Alih-alih fokus pada pemulihan dan distribusi logistik, kemunculan konten tersebut justru memicu perdebatan etika dan empati.
Baca Juga: TPG Guru Belum Cair Jelang Akhir Tahun, Ini Aturan SKTP dan Apakah Masih Bisa Dibayarkan 2025
Unggahan video dan foto kaos itu muncul bersamaan dengan laporan mengenai sulitnya akses distribusi bantuan ke sejumlah wilayah terdampak bencana di Aceh.
Beberapa daerah seperti Aceh Tamiang, Sekerak, dan Bandar Pusaka dilaporkan masih mengalami kendala serius akibat kerusakan jalan dan jembatan yang terputus.
Kondisi infrastruktur yang rusak membuat proses penyaluran bantuan menjadi lambat, sementara warga membutuhkan pasokan logistik, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya secara mendesak.
Baca Juga: BRI Kirim 1.066 Relawan dan 109 Armada, Perkuat Respons dan Pemulihan Bencana di Sumatera
Situasi tersebut semakin memperkuat kritik warganet terhadap konten yang dianggap tidak pada tempat dan waktu.
Sejumlah pengguna media sosial menilai, di tengah bencana alam, fokus utama seharusnya tertuju pada upaya penyelamatan, pemulihan, dan solidaritas kemanusiaan, bukan pada narasi politik ataupun pencitraan.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi terkait pihak yang memproduksi atau mendistribusikan kaos tersebut.
Baca Juga: Membuka Isi Rapor Siswa dan Rapor Pendidikan, Ini Fungsi, Manfaat, Fitur, hingga Cara Akses Lengkap
Namun polemik yang muncul menunjukkan sensitivitas publik terhadap penggunaan simbol politik di wilayah bencana masih sangat tinggi.
Peristiwa ini kembali mengingatkan pentingnya etika komunikasi publik, terutama di tengah situasi krisis.
Bagi masyarakat terdampak, kehadiran empati dan bantuan nyata jauh lebih dibutuhkan dibandingkan pesan-pesan simbolik yang berpotensi menimbulkan kontroversi.***




