POJOKSATU.ID - Penanganan bencana banjir dan longsor di Sumatera Utara kembali menuai sorotan tajam.
Meski pemerintah provinsi mengklaim situasi mulai terkendali, fakta di lapangan justru menunjukkan kondisi yang masih jauh dari kata pulih.
Hingga Jumat 19 Desember 2025, sedikitnya 10 desa di Kabupaten Tapanuli Tengah masih terisolasi.
Baca Juga: Kerja Fleksibel ASN Saat Nataru 2025, Pemerintah Tegaskan Jaga Ekonomi dan Pelayanan Publik
Menurut Bobby desa tersebut masih tanpa akses kendaraan, listrik belum pulih, dan roda ekonomi praktis berhenti total.
Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution mengakui masih adanya desa-desa yang terjebak isolasi pascabencana.
Pernyataan ini sekaligus membantah narasi optimistis yang sebelumnya disampaikan terkait pemulihan wilayah terdampak.
Baca Juga: Ketua DPD Golkar Sumut Musa Rajekshah Diganti, Periodenya Memang Sudah Habis, Dipilih Musda 2020
“Daerah terisolir tinggal desa-desa, masih ada 10,” ujar Bobby, dikutip dari Kompas, 19 Desember 2025.
Meski disebut personel dan logistik sudah mulai masuk, kondisi faktual di wilayah tersebut memperlihatkan masalah yang lebih kompleks.
Infrastruktur dasar seperti listrik belum sepenuhnya pulih karena banyak tiang listrik roboh dan belum diperbaiki.
Baca Juga: Benda Mirip Bom di Depan Gereja GKPS ITC Bandung Ternyata Kayu, Polisi Telusuri Pelaku
Akibatnya, kendaraan belum bisa masuk, distribusi barang tersendat, dan aktivitas ekonomi warga lumpuh berkepanjangan.
Situasi ini memperparah penderitaan warga yang sebelumnya sudah dihantam bencana besar.
Tanpa listrik dan akses transportasi, warga kesulitan mendapatkan bahan pangan, layanan kesehatan, serta kebutuhan dasar lainnya.
Klaim bahwa bantuan “sudah masuk” menjadi ironi ketika realitas di lapangan masih menunjukkan keterisolasian akut.
Data resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara memperkuat gambaran krisis yang belum berakhir.
Baca Juga: Sudah Berminggu-minggu SKTP Keluar, TPG TW 3 dan 4 Belum Masuk Rekening, Kapan Cair Sebenarnya?
Hingga Jumat pagi, jumlah korban meninggal dunia mencapai 369 orang, dengan 926 warga luka-luka dan 71 orang masih dinyatakan hilang.
Angka ini menjadikan bencana di Sumut sebagai salah satu yang paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir.
Tak hanya korban jiwa, dampak sosialnya pun masif. Sebanyak 1,7 juta warga terdampak, sementara 19.608 jiwa masih mengungsi karena rumah rusak atau berada di zona rawan.
Baca Juga: Sudah Berminggu-minggu SKTP Keluar, TPG TW 3 dan 4 Belum Masuk Rekening, Kapan Cair Sebenarnya?
Banyak pengungsi bertahan di tempat darurat dengan fasilitas minim, menunggu kepastian kapan kehidupan mereka bisa kembali normal.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius soal efektivitas respons pemerintah daerah dan pusat.
Jika bencana telah berlangsung berpekan-pekan, mengapa masih ada desa yang belum terhubung secara layak?
Baca Juga: Geger! Pemerintah Siapkan KUR Rp10 Triliun Buat Konten Kreator, Gen Z Auto Heboh
Mengapa pemulihan infrastruktur vital seperti listrik dan jalan terkesan berjalan lambat, sementara dampak ekonominya terus membesar?
Bagi warga di desa-desa terisolasi, statistik dan konferensi pers tak banyak berarti.
Yang mereka hadapi adalah malam tanpa listrik, akses pangan terbatas, dan masa depan ekonomi yang suram.
Ketika pejabat berbicara soal “logistik sudah masuk”, warga masih harus bertahan dengan kondisi darurat yang belum berakhir.
Bencana di Sumatera Utara kini bukan hanya soal alam, tetapi juga menjadi cermin lemahnya kesiapsiagaan, mitigasi, dan kecepatan pemulihan.
Selama desa-desa masih terisolasi dan warga belum bisa bangkit, klaim pemulihan hanya akan terdengar sebagai retorika di tengah krisis kemanusiaan yang belum selesai.***




