POJOKSATU.id - Satu bangkai orangutan ditemukan di wilayah Pulau Pakat, hilir Sungai Garoga, Kabupaten Tapanuli Selatan, pasca banjir dan longsor yang melanda kawasan tersebut.

Temuan bangkai satwa dilindungi itu dibenarkan Deki, perwakilan Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Mandailing Natal, yang turut terlibat dalam proses evakuasi di lokasi.

Menurut Deki, bangkai orangutan pertama kali terlihat dari bagian tubuh yang muncul di antara material banjir.

Baca Juga: 14 Korban Bencana di Tapanuli Selatan Belum Ditemukan, Material Kayu dan Pohon Hambat Pencarian

Awalnya, tim menduga temuan tersebut adalah jenazah manusia.

"Awalnya yang kelihatan hanya tangannya. Setelah dibongkar, bentuk tangannya sudah berbeda," ujar dia, Minggu 14 Desember 2025.

"Ketika dibalik, terlihat bagian punggung masih berwarna oranye, dari situ kami yakin itu orangutan," sambungnya.

Baca Juga: Puluhan Keluarga Korban Bencana Banjir di Hutagodang Tapanuli Selatan Makin Cemas, Semua Hanyut, Perbaikan Rumah Belum Jelas

Bangkai orangutan tersebut ditemukan dalam kondisi mengalami pembusukan, menandakan satwa tersebut telah mati beberapa waktu sebelum ditemukan.

Namun, penyebab pasti kematiannya masih belum dapat dipastikan.

Deki menduga, kematian orangutan tersebut berkaitan erat dengan banjir dan longsor di wilayah hulu Sungai Garoga, yang merupakan bagian dari kawasan Hutan Batang Toru, habitat alami orangutan Tapanuli.

Bagi pembaca yang ingin ikut mengambil peran, silakan membuka tautan donasi melalui  teks ini ==> Gerakan Anak Negeri

"Bisa jadi terdampak banjir, karena di bagian hulu banyak longsoran. Hutan Batang Toru memang habitat orangutan," jelasnya.

Ia menambahkan, populasi orangutan di wilayah Tapanuli tergolong sangat terbatas.

Berdasarkan data konservasi, jumlah orangutan yang hidup liar di alam Tapanuli diperkirakan hanya sekitar 600 ekor.

Sehingga setiap kematian menjadi kerugian besar bagi kelestarian satwa tersebut.

Terkait banjir dan longsor yang membawa material kayu dalam jumlah besar serta merusak ekosistem sungai, Deki menilai bencana ini tidak semata disebabkan oleh tingginya curah hujan.

Baca Juga: Prabowo Marah, Pejabat Diminta Hentikan Aksi Pencitraan dan Foto-foto di Lokasi Bencana

"Resapan air sudah hampir tidak ada. Ini akibat pembukaan lahan di wilayah hulu, terutama di lereng-lereng curam yang sebenarnya tidak layak dibuka," kata dia.

Menurutnya, kebijakan pemberian izin pengelolaan lahan di kawasan hulu perlu dievaluasi.

Mengingat dampaknya bukan hanya terhadap keselamatan manusia, tetapi juga terhadap kelestarian lingkungan dan satwa liar.***