POJOKSATU.id - Bencana selalu meninggalkan duka. Kini dirasakan masyarakat di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Berdasarkan data BNPB per Sabtu 13 Desember 2025, jumlah korban terus bertambah.
Di ketiga provinsi tersebut, korban meninggal dunia tercatat tembus 1.006 jiwa.
Bagi pembaca yang ingin ikut mengambil peran, silakan membuka tautan donasi melalui teks ini ==> Gerakan Anak Negeri
Dengan rincian di Aceh sebanyak 415 orang meninggal dunia disusul Sumut 349 orang dan Sumbar 242 orang.
Sementara sebanyak 217 jiwa masih dinyatakan hilang sejak awal bencana pada Selasa 25 November 2025 lalu.
Duka para korban bukan saja karena kehilangan orangtua, saudara, anak, keluarga, teman, sahabat atau tetangga.
Tapi juga karena kehilangan harta benda, termasuk rumah yang selama ini menjadi harapan bersemai bersama keluarga.
Hal itulah yang kini juga dirasakan Gibran yang hanya bisa memandang dan meratapi puing-puing bangunan di hadapannya.
Rumah di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, yang selama ini ia tinggali bersama kakek dan neneknya.
Baca Juga: Skala Bencana Terlalu Besar, Pemerintah Aceh Minta Bantuan UNDP dan UNICEF
Bukan rumah berukuran besar dan mewah, melainkan rumah sederhana.
Tapi di rumah itulah Gibran lahir dan tumbuh hingga kini usianya yang menginjak 9 tahun.
Sejak rumah itu disapu banjir bandang bercampur lumpur dan pepohonan, Gibran kini berubah jadi pendiam.
Setiap hari ia bersama kakeknya mendatangi puing-puing rumah tersebut untuk mencari apapun yang bisa diselamatkan.
Tapi ia lebih banyak diam dan berdiri di antara sisa-sia bencana yang belum dibersihkan.
Bagi pembaca yang ingin ikut mengambil peran, silakan membuka tautan donasi melalui teks ini ==> Gerakan Anak Negeri
Hanya satu benda yang bisa ia selamatkan ketika bencana melanda selain pakaian yang melekat di tubuhnya, yakni tasbih.
Tasbih itu pula yang kini selalu dibawanya kemana-mana.
Saat tim Gerakan Anak Negeri mengajaknya berbincang pada Minggu, 14 Desember 2025, tak banyak kalimat yang disampaikan Gibran.
Baca Juga: AHY Samakan Bencana Sumatera dengan Tsunami 2004, Skala Kerusakan Dinilai Lebih Meluas
Ia mengaku semua perlengkapan sekolahnya tak tahu kini kemana.
Mulai dari pakaian sekolah, tas, sepatu, buku dan peralatan sekolah lainnya. Semua hanyut disapu banjir.
Saat ditanya tentang tasbih yang selalu ia bawa itu, Gibran tak menjawab.
Baca Juga: Belasan Korban Banjir di Sumbar Dilarikan ke RS, Dugaan Keracunan Makanan di Pengungsian
Matanya kosong memandang puing-puing bangunan rumah di hadapannya.
"Itu kakek (kesini sama kakek). Nenek di posko," terang Gibran.
Keinginan Gibran sama dengan penyintas bencana Sumatera lainnya.
Ingin semua kembali pulih, aktifitas berjalan seperti semula, dan semua anak bisa kembali bersekolah.
"Mau semua kembali (normal)," ucap Gibran sembari tetap menggenggam tasbihnya.***




