POJOKSATU.ID - Warga Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, menunjukkan semangat gotong royong dan kemandirian di tengah dampak banjir bandang Sungai Aek Garoga.

Gelondongan kayu besar yang terbawa arus deras banjir tidak dibiarkan terbuang, melainkan dimanfaatkan untuk membantu proses perbaikan rumah-rumah warga yang rusak akibat bencana.

Kayu-kayu yang terdampar di sekitar permukiman dan bantaran sungai tersebut dikumpulkan secara swadaya oleh warga.

Bagi pembaca yang ingin ikut mengambil peran, silakan membuka tautan donasi melalui teks ini ==> Gerakan Anak Negeri

Setelah itu, gelondongan kayu dipilah berdasarkan jenis dan kualitasnya sebelum diolah menjadi papan dan balok yang siap digunakan sebagai bahan bangunan.

Proses pengolahan kayu dilakukan secara mandiri dengan peralatan sederhana.

Warga menggunakan mesin gergaji untuk memotong kayu sesuai ukuran yang dibutuhkan.

Baca Juga: Bocoran Soal CPNS 2026? Ini Gambaran Paket Prediksi SKD untuk Calon Peserta

Setiap gelondongan membutuhkan waktu pengerjaan yang cukup lama, yakni sekitar empat jam, tergantung pada ukuran dan tingkat kekerasan kayu.

“Kami manfaatkan apa yang ada. Daripada kayu hanyut sia-sia, lebih baik dipakai untuk bangun rumah,” ujar salah seorang warga Batangtoru, dikutip pojoksatu.id dari Liputan6

Inisiatif ini muncul sebagai respons atas keterbatasan material bangunan pascabencana.

Baca Juga: Jangan Sampai Terlewat! SE BKN Tetapkan Tenggat 20 Desember 2025 untuk Honorer Calon PPPK Paruh Waktu

Banyak rumah warga mengalami kerusakan pada bagian dinding, lantai, hingga atap akibat terjangan banjir bandang.

Sementara itu, bantuan bahan bangunan belum sepenuhnya menjangkau seluruh wilayah terdampak.

Hasil olahan kayu tersebut rencananya akan digunakan untuk berbagai keperluan.

Baca Juga: Kabar Baik Honorer! Aturan Gaji dan Tunjangan PPPK Paruh Waktu 2025 Resmi Berlaku, Ini Penjelasannya

Selain memperbaiki rumah warga, papan dan balok kayu juga akan dimanfaatkan untuk pembangunan jembatan darurat di tiga desa yang terdampak banjir bandang.

Jembatan tersebut sangat dibutuhkan untuk memulihkan akses antarwilayah yang sempat terputus akibat derasnya arus sungai.

Langkah warga Batangtoru ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak.

Baca Juga: Bukan Perpres 79/2025, Ternyata Aturan Gaji Pensiunan PNS Desember 2025 Sesuai Peraturan Ini!

Di tengah keterbatasan dan situasi darurat, kreativitas serta semangat kebersamaan menjadi kekuatan utama dalam menghadapi dampak bencana alam.

Banjir bandang Sungai Aek Garoga sendiri membawa dampak besar bagi masyarakat setempat.

Selain merusak permukiman, banjir juga menghanyutkan sejumlah fasilitas umum dan mengganggu aktivitas ekonomi warga.

Namun, semangat untuk bangkit terlihat jelas dari upaya warga yang tidak menunggu bantuan, melainkan bergerak bersama memulihkan kondisi lingkungan mereka.

Baca Juga: HEBAT! 33 ASN Jawa Tengah Raih Abdi Nagari Award 2025, Sekda Tekankan Inovasi Layanan Publik

Warga berharap, pemanfaatan kayu sisa banjir ini dapat mempercepat proses pemulihan dan meringankan beban masyarakat terdampak.

Mereka juga berharap adanya dukungan lanjutan dari pemerintah untuk pembangunan permanen di wilayah yang terdampak cukup parah.

Kisah warga Batangtoru ini menjadi gambaran nyata ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana, sekaligus bukti bahwa dari sisa-sisa bencana, harapan baru bisa tumbuh melalui kerja keras dan gotong royong.***