POJOKSATU.ID - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah Sumatera telah mencapai 1.003 jiwa.

Data tersebut dihimpun hingga Sabtu, 13 Desember 2025, berdasarkan dashboard geoportal penanganan darurat BNPB yang mencakup tiga provinsi terdampak utama.

Tiga provinsi yang masuk dalam pendataan tersebut yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Baca Juga: BSU Guru Non-ASN Madrasah 2025 Tanpa Pengajuan Sekolah, Data Ditetapkan Langsung dari Pusat! Operator Diminta Pastikan Data Tetap Valid

Dari ketiganya, Aceh mencatat angka korban meninggal tertinggi dengan total 415 jiwa.

Posisi berikutnya ditempati Sumatera Utara dengan 347 korban meninggal, disusul Sumatera Barat sebanyak 241 jiwa.

BNPB menyebutkan bahwa angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan laporan sehari sebelumnya.

Baca Juga: Bukan Sekadar Makan Gratis, Nanik Sebut Program MBG Jadi Mesin Baru Ekonomi Indonesia

Proses evakuasi dan pencarian korban yang masih berlangsung di sejumlah wilayah menjadi salah satu faktor bertambahnya jumlah korban meninggal yang terdata.

Sementara itu, jumlah korban yang dilaporkan hilang justru mengalami penurunan.

Hingga laporan terbaru, korban hilang tercatat sebanyak 218 orang.

Baca Juga: Resmi dari Kemenag! BSU Guru Non-ASN Madrasah 2025 Segera Disalurkan, Ini Mekanisme Penetapan dan Peran Kanwil yang Perlu Dipahami

Penurunan ini terjadi seiring ditemukannya sejumlah korban dalam proses pencarian yang dilakukan tim gabungan di lapangan.

Selain korban meninggal dan hilang, BNPB juga mencatat jumlah korban luka di tiga provinsi tersebut mencapai lebih dari 5.400 jiwa.

Ribuan korban luka saat ini menjalani perawatan di fasilitas kesehatan, posko medis darurat, maupun dirawat secara mandiri oleh keluarga masing-masing.

Baca Juga: Prabowo Turun ke Lokasi Bencana, Janji Perbaikan Infrastruktur tapi Ingatkan Warga Jangan Berharap Instan

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa data korban masih berpotensi berubah.

Hal ini disebabkan proses verifikasi dan sinkronisasi data masih terus dilakukan oleh petugas di lapangan bersama pemerintah daerah.

“Masih ada kemungkinan perubahan data karena proses pencocokan dan validasi masih berlangsung,” ujar Abdul Muhari. dikutip pojoksatu.id dari Instagram @bushcoo

Baca Juga: HATI-HATI Link Pendaftaran ASN Sekolah Rakyat 2025 Ini, Ada Modus Phising Mengarah ke Formulir Digital, Minta Data Pribadi

BNPB juga mencatat adanya ketidaksesuaian data korban meninggal, terutama terkait temuan jasad di sekitar area pemakaman.

Kondisi tersebut memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan identitas korban serta menghindari adanya pencatatan ganda.

Bencana banjir dan tanah longsor di wilayah Sumatera ini diketahui telah berlangsung sejak 25 November 2025.

Dampaknya meluas ke 52 kabupaten dan kota, menyebabkan kerusakan besar pada permukiman warga, infrastruktur publik, serta aktivitas ekonomi masyarakat.

Baca Juga: BLT Kesra 2026 Masih Tanda Tanya, Pemerintah Siapkan Mekanisme Barcode Digital?

BNPB memperkirakan, anggaran yang dibutuhkan untuk pemulihan dan rehabilitasi pascabencana di wilayah terdampak mencapai Rp51,82 triliun.

Angka tersebut mencakup kebutuhan perbaikan infrastruktur, pemulihan sosial ekonomi, hingga penanganan dampak jangka panjang bagi masyarakat.

Pemerintah bersama BNPB terus mengintensifkan upaya tanggap darurat, pencarian korban, serta penyaluran bantuan logistik.

Masyarakat juga diimbau tetap waspada mengingat potensi cuaca ekstrem masih dapat terjadi di sejumlah wilayah terdampak.***