POJOKSATU.ID - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama kembali dilanda gejolak internal serius, dugaan adanya sabotase sejak awal bulan November.
Dalam rapat gabungan Syuriyah dan Tanfidziyah yang digelar di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Sabtu 13 Desember 2025.
Isu ini menambah panjang daftar konflik yang belakangan terus mengguncang tubuh PBNU.
KH Imron Rosyadi Hamid, secara terbuka menyebut bahwa PBNU telah membentuk tim investigasi khusus.
Tim ini melibatkan ahli teknologi informasi untuk menelusuri dugaan sabotase tersebut.
Langkah ini menandai keseriusan PBNU dalam menangani persoalan yang dinilai sudah melampaui konflik biasa.
Baca Juga: 971 Sekolah dan Madrasah Raih Adiwiyata 2025, Sukoharjo Muncul sebagai Basis Pendidikan Hijau
Menurut Gus Imron, sabotase tersebut tidak hanya bersifat administratif, tetapi menyentuh simbol kekuasaan tertinggi dalam struktur NU.
Salah satu temuan awal yang disorot adalah hilangnya hak stamping atau kewenangan penggunaan stempel resmi Rais Aam PBNU.
Kondisi ini dinilai sangat fatal dan mencederai tata kelola organisasi.
Baca Juga: PIP Termin 3 Cair Bertahap Desember 2025, Begini Cara Cek Status dan Temukan NISN dengan Nama
“Bayangkan, pemimpin tertinggi di NU itu hak stamping-nya dihilangkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab,” ujar Gus Imron, dikutip dari Detik, 13 Desember 2025.
Pernyataan ini sekaligus mengonfirmasi bahwa konflik internal PBNU telah memasuki fase yang mengkhawatirkan.
Gus Imron menyebut dugaan sabotase tersebut mulai terjadi sejak 21 November 2025.
Namun hingga kini, PBNU belum mengungkap secara terbuka siapa pihak yang bertanggung jawab.
Dalam rapat internal disebutkan ada dua nama yang telah mengemuka.
Baca Juga: BLT Kesra 2026 Masih Tanda Tanya, Pemerintah Siapkan Mekanisme Barcode Digital?
Tetapi keduanya belum diumumkan ke publik karena masih menunggu pengesahan resmi melalui Surat Keputusan pimpinan PBNU.
Ketertutupan ini justru memunculkan tanda tanya baru.
Di tengah situasi NU yang sedang dilanda polemik kepemimpinan dan perbedaan tafsir konstitusi organisasi, isu sabotase dianggap berpotensi memperkeruh suasana.
Sejumlah pihak menilai langkah investigasi ini bisa menjadi senjata baru dalam konflik internal yang belum juga menemukan titik temu.
Lebih jauh, Gus Imron menegaskan bahwa tim investigasi akan bekerja cepat dan hasilnya akan dilaporkan langsung kepada Rais Aam PBNU sebelum diumumkan ke publik.
Namun hingga saat ini, belum ada kejelasan batas waktu penyelidikan tersebut, sementara kegaduhan di internal NU terus berkembang.
Baca Juga: BLT Kesra Lanjut Sampai 2026? Muncul Usulan Voucher Belanja sebagai Pengganti Bantuan Tunai
Pengungkapan dugaan sabotase ini memperlihatkan betapa rapuhnya konsolidasi PBNU saat ini.
Di saat organisasi keagamaan terbesar di Indonesia diharapkan menjadi penyejuk umat.
Konflik internal justru mencuat ke ruang publik dengan narasi saling curiga dan tudingan serius.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran luas di kalangan warga Nahdliyin.
Jika tidak segera diselesaikan secara terbuka dan bermartabat, konflik berkepanjangan ini dikhawatirkan akan merusak wibawa PBNU.
Baca Juga: BLT Kesra Lanjut Sampai 2026? Muncul Wacana Stimulus Tunai Baru dari Pemerintah
Serta menggerus kepercayaan publik terhadap kepemimpinan organisasi.
Itulah perkembangan informasi terkait pengurus besar nahdatul ulama yang ingin membongkar dua nama pesabotase organisasi ini.***




