POJOKSATU.id- Kericuhan yang terjadi di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis malam lalu, menyisakan rangkaian kerusakan yang tidak kecil dampaknya bagi warga sekitar.

Setelah dua mata elang (matel) dikeroyok pada sore hari, situasi berkembang cepat menjadi aksi balasan di malam harinya.

Sejumlah warung, motor, hingga mobil dilaporkan dibakar massa.

Baca Juga: Single Salary ASN Bukan Janji Kenaikan Gaji, KemenPANRB Tegaskan Masih Tahap Pembahasan

Dilansir detik Polisi mencatat kerugian materi mencapai sekitar Rp 273 juta, angka yang menggambarkan betapa besar efek domino yang muncul dari satu insiden kekerasan.

Dari pantauan polisi dan keterangan warga, pembakaran dimulai sekitar beberapa jam setelah informasi pengeroyokan dua matel tersebar luas.

Massa yang datang ke lokasi membawa serta kemarahan yang langsung diarahkan pada deretan warung dan kendaraan yang berada di pinggir jalan.

Baca Juga: Rencana TPG Bulanan Tahun 2026 Diungkap Pemerintah, Admin Info GTK Beri Peringatan! Perubahan Data Guru Kini Semakin Dibatasi, Cek Profil Anda

Api cepat membesar sebelum petugas pemadam mendatangi lokasi dan memadamkan titik-titik kebakaran.

Hasil pendataan aparat menunjukkan sedikitnya 9 kios, 6 sepeda motor, dan 1 mobil rusak terbakar dalam kejadian tersebut.

Sebagian besar warung yang terbakar merupakan usaha kecil milik warga setempat yang sehari-hari bergantung pada penjualan makanan, rokok, dan kebutuhan harian lain.

Baca Juga: Setengah Bulan Listrik AcehKacau! Aktivis Minta Dirut PLN Dicopot, Menteri BUMN Didesak Bertindak

Beberapa pedagang mengaku tidak sempat menyelamatkan barang dagangan karena situasi berlangsung mendadak.

Salah satu pedagang yang warungnya habis terbakar mengatakan ia hanya bisa melihat dari kejauhan sementara warga lain berusaha menghindari kerumunan massa.

Menurutnya, tidak ada satu pun barang yang dapat diselamatkan malam itu.

Ia menyebut kerugian yang dialaminya tidak hanya berupa bangunan dan peralatan, tetapi juga stok dagangan yang baru diisi beberapa hari sebelumnya.

Polisi kemudian merinci total kerugian materil menjadi angka yang cukup besar sekitar Rp 273 juta.

Baca Juga: Single Salary ASN Bukan Janji Kenaikan Gaji, KemenPANRB Tegaskan Masih Tahap Pembahasan

Nilai itu mencakup bangunan kios, barang dagangan, motor yang terbakar, serta kerusakan mobil yang terkena imbas panas.

Angka tersebut masih bisa berubah karena proses pendataan terhadap para pemilik kios dan kendaraan dilakukan bertahap.

Kericuhan ini bermula dari pengeroyokan dua matel di depan Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata pada sore hari.

Baca Juga: Rencana TPG Bulanan Tahun 2026 Diungkap Pemerintah, Admin Info GTK Beri Peringatan! Perubahan Data Guru Kini Semakin Dibatasi, Cek Profil Anda

Dua orang penagih utang tersebut diduga hendak menghentikan seorang pengendara motor yang bermasalah dengan angsuran.

Namun, belum sempat persoalan itu dituntaskan, sekelompok orang dari sebuah mobil turun dan menyerang kedua matel tersebut.

Satu di antaranya meninggal di tempat, sementara satu lainnya sempat kritis sebelum akhirnya menyusul meninggal dunia di rumah sakit.

Baca Juga: Guru, Nakes, atau IT? Ini Formasi CPNS 2026 yang Diprediksi Paling Ketat Saingannya

Kabar pengeroyokan itu dengan cepat menyebar.

Ketegangan meningkat menjelang malam hingga memuncak pada aksi balasan yang berujung pembakaran.

Polisi menyebut penyelidikan dilakukan dalam dua jalur: kasus pengeroyokan yang menyebabkan dua orang tewas, dan kasus perusakan serta pembakaran fasilitas warga.

Keduanya ditangani secara terpisah karena melibatkan kelompok dan motif yang berbeda.

Kapolres Metro Jakarta Selatan memastikan situasi kini telah terkendali.

Aparat gabungan, termasuk Brimob, dikerahkan untuk memastikan tidak ada lagi konsentrasi massa di sekitar lokasi.

Baca Juga: Single Salary ASN Bukan Janji Kenaikan Gaji, KemenPANRB Tegaskan Masih Tahap Pembahasan

Polisi juga sudah memeriksa sejumlah saksi untuk mengurai rangkaian kejadian serta mengidentifikasi pelaku pengeroyokan maupun pembakaran.

Bagi warga yang menjadi korban, fokus mereka sekarang bukan lagi soal siapa memulai, tetapi bagaimana memulihkan kehidupan sehari-hari.

Beberapa pedagang mengaku tidak tahu kapan bisa berjualan lagi karena kios yang mereka bangun bertahun-tahun kini hanya menyisakan puing.

Baca Juga: Guru, Nakes, atau IT? Ini Formasi CPNS 2026 yang Diprediksi Paling Ketat Saingannya

Sebagian lainnya menggantungkan harapan pada bantuan pemerintah atau dukungan warga sekitar untuk kembali berdiri.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa satu insiden kekerasan dapat memicu kerusakan sosial dan ekonomi yang jauh lebih besar.

Polisi menekankan pentingnya meredam informasi yang beredar di lapangan dan mencegah aksi balasan yang justru menambah korban baru.***