POJOKSATU.ID - Kasus kecelakaan mobil pengangkut Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Kalibaru 01, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis 11 Desember 2025.
Kini berbuntut panjang hingga membuat Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming angkat bicara.
Mobil operasional yang seharusnya mendistribusikan makanan untuk siswa justru melaju tak terkendali dan menabrak puluhan anak serta seorang guru.
Alih-alih menjadi program unggulan pemerintah, insiden ini justru memunculkan pertanyaan besar mengenai lemahnya pengawasan dan standar operasional di lapangan.
Baca Juga: Bea Cukai Bikin Heboh Baju Ilegal Tak Dimusnahkan, Malah Mau Jadi Bantuan Banjir Sumatera!
Dalam pernyataan resmi, Gibran tak mampu menyembunyikan kekecewaannya.
Ia tegas meminta aparat penegak hukum mengusut kasus ini hingga tuntas.
“Saya juga telah meminta agar segera dilakukan pengusutan tuntas, penegakan hukum, dan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terjadi lagi,” ujarnya
Desakan Gibran mencerminkan betapa fatalnya kelalaian yang terjadi, terutama karena menyangkut keselamatan anak-anak di lingkungan pendidikan.
Gibran bahkan menyampaikan permintaan maaf resmi atas nama pemerintah, sebuah langkah yang menunjukkan betapa seriusnya dampak tragedi tersebut.
“Atas nama pemerintah, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya dan menyayangkan kejadian ini. Kejadian ini tidak boleh terulang,” katanya.
Meski begitu, permintaan maaf tidak serta merta meredam kritik dari publik yang sejak awal.
Mempertanyakan kualitas manajemen program MBG yang dianggap terburu-buru dan tidak diawasi dengan ketat.
Kecelakaan terjadi pada pagi hari saat bel masuk baru saja berbunyi.
Rekaman CCTV yang telah diperiksa menunjukkan bahwa mobil MBG sempat berhenti di depan gerbang sekolah, namun tiba-tiba melaju cepat seolah kehilangan kendali.
Akibatnya, 21 orang menjadi korban luka-luka, sebagian besar siswa yang sedang berada di halaman sekolah.
Luka fisik bukan satu-satunya masalah para siswa kini harus menghadapi trauma mendalam yang tidak akan pulih dalam waktu singkat.
Baca Juga: Terungkap! Truk Bantuan Dibakar Massa, Bukan Kendaraan BNPB Seperti Viral
Gibran menekankan pentingnya penanganan medis dan psikologis untuk seluruh korban.
“Saya mendorong penanganan medis yang maksimal bagi para korban, serta pendampingan dan trauma healing bagi para siswa dan guru,” tegasnya.
Namun, seruan itu tak menutupi kenyataan bahwa program MBG terbukti memiliki banyak celah.
Mulai dari ketidaksiapan sopir, lemahnya SOP, hingga pengawasan yang nyaris nihil.
Hingga saat ini, kepolisian masih menyelidiki penyebab kecelakaan.
Pemeriksaan urine sopir, Adi Irawan, sudah dilakukan, sementara status sopir yang diduga merupakan “sopir cabutan” semakin memperburuk citra pengelolaan program.
Jika benar sopir tidak memiliki kompetensi memadai, maka ini bukan sekadar kelalaian individu.
Tetapi kegagalan sistemik pemerintah dalam memastikan operator MBG memenuhi standar keselamatan.
Tragedi ini menambah daftar panjang masalah dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis.
Publik pun kini menuntut pemerintah bertindak jauh lebih serius, bukan sekadar meminta maaf.
Sebab jika keselamatan anak sekolah saja tidak mampu dijaga, wajar bila kepercayaan terhadap program pemerintah semakin goyah.***




