POJOKSATU.ID - Kecerobohan kembali memakan korban. Insiden mobil operasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
Yang menerobos masuk ke halaman SDN Kalibaru 01 Pagi, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis 11 Desember 2025.
Menyisakan luka mendalam bagi para orang tua murid dan memunculkan pertanyaan besar soal standar keselamatan program pemerintah tersebut.
Sebanyak 21 orang terluka, terdiri dari 19 siswa dan 1 guru, setelah mobil putih itu melaju tak terkendali dan menabrak kerumunan di halaman sekolah.
Baca Juga: Ratusan Honorer Gagal PPPK Tetap Bekerja! Pemda Bayar Rp1,5 Juta dari APBD 2026
Kapolsek Cilincing AKP Bobi Subasri menyampaikan bahwa sopir mobil, yang kini telah diamankan polisi, memberikan pengakuan mengejutkan.
Dalam keterangan awalnya, sopir mengaku keliru menginjak pedal pada situasi menanjak saat hendak mengantar makanan ke sekolah tersebut.
Sopir mengklaim rem mobil terasa tidak pakem, membuatnya panik, dan justru menginjak pedal dalam yang ternyata adalah pedal gas.
Kelalaian fatal itu mengakibatkan mobil melesat langsung ke arah para siswa yang sedang berada di halaman.
Baca Juga: Jangan Keliru! Ternyata Begini Proses Klaim Subsidi Bunga KUR BRI, BNI, Mandiri Saat Ajukan Pinjaman
Polisi menegaskan olah tempat kejadian perkara (TKP) akan dilakukan untuk memastikan apakah ini benar murni kesalahan sopir.
Atau ada faktor kelalaian mekanis pada kendaraan operasional.
Di tengah kekacauan dan jeritan para siswa yang terluka, Badan Gizi Nasional (BGN) memilih berhati-hati dalam memberikan penjelasan.
Staf Khusus BGN Redy Hendra Gunawan mengatakan pihaknya menyerahkan sepenuhnya hasil penyelidikan kepada aparat kepolisian.
Pernyataan ini menambah sorotan publik terhadap kualitas pengawasan dan manajemen armada MBG.
Mengingat program ini melibatkan distribusi makanan ke ribuan sekolah setiap hari.
Alih-alih memberikan rasa aman bagi pelajar, insiden ini justru memunculkan kekhawatiran bahwa keselamatan mereka diabaikan.
Meski BGN mengeklaim akan menanggung seluruh biaya pengobatan korban, hal itu tidak serta-merta meredam kritik.
Netizen mempertanyakan bagaimana kendaraan yang seharusnya melalui pemeriksaan rutin bisa meluncur tanpa kontrol hingga mencelakai anak-anak.
Minimnya pengawasan dan potensi kerusakan pada rem menambah panjang daftar masalah program MBG yang belakangan ramai menjadi sorotan.
Mulai dari standar dapur hingga prosedur operasional kendaraan.
Lima korban kini menjalani perawatan intensif di RS Koja, sementara empat belas lainnya dirawat di RSUD Cilincing.
Baca Juga: Terjawab! Apakah KUR BRI Dapat Subsidi Bunga dari Pemerintah? Ini Fakta Terbarunya!
Satu korban sempat dirawat di Puskesmas dan sudah dipulangkan.
Namun kondisi psikis para siswa tentu tidak dapat sembuh dalam sekejap.
Insiden ini menimbulkan trauma kolektif bagi anak-anak yang seharusnya belajar dengan aman, bukan menjadi korban program yang diklaim bertujuan meningkatkan gizi mereka.
Namun pertanyaan terbesar tetap menggantung, bagaimana mungkin sopir mobil program pemerintah bisa melakukan kesalahan elementer seperti salah menginjak pedal?
Dan apakah kendaraan tersebut benar-benar laik jalan? Publik menanti transparansi investigasi kepolisian.
Jika kelalaian terbukti, kasus ini bukan sekadar insiden, melainkan alarm keras kegagalan manajemen keselamatan dalam program nasional.***




