POJOKSATU.ID - Aspri Presiden, Agung Surahman, tengah menjadi sorotan tajam publik setelah mengunggah mini vlog bertema day in my life.
Saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto meninjau wilayah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Konten tersebut menuai kritik karena dinilai tidak sensitif, mengingat ribuan warga tengah berjuang memenuhi kebutuhan dasar di tengah bencana yang masih berlangsung.
Baca Juga: Ribuan Guru Lulus PPG tapi NRG Tak Kunjung Terbit! Ini Akar Masalahnya
Dalam video yang kini ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial itu, Agung menampilkan aktivitas perjalanannya dengan gaya santai layaknya travel vlog.
Mulai dari fasilitas perjalanan, suasana pesawat, hingga aktivitas di sela agenda kunjungan Presiden.
Penggunaan musik ringan dan gaya penyajian yang dianggap terlalu santai dinilai publik tidak mencerminkan situasi duka yang terjadi di lapangan.
Warganet menilai konten tersebut tidak selaras dengan kondisi warga yang kehilangan rumah, kesulitan air bersih, dan menghadapi akses logistik yang terputus.
Banyak yang mempertanyakan empati seorang pejabat istana, terlebih saat ia berada langsung di titik lokasi bencana. “Ini bukan waktunya bikin konten nyaman. Itu daerah bencana, bukan lokasi liburan,” tulis salah satu komentar yang banyak disorot.
Situasi semakin memanas ketika Agung terlihat membalas beberapa komentar dengan nada yang dianggap meremehkan.
Baca Juga: Wacana TPG Bulanan Makin Kuat! Begini Dampaknya, Pro-Kontra, hingga Tantangan Validasi Dapodik
Tangkapan layar percakapan antara Agung dan warganet beredar luas, memperlihatkan bagaimana ia menanggapi kritik dengan jawaban yang dinilai kurang profesional.
Bukannya memperbaiki suasana, respons tersebut justru memicu gelombang kemarahan publik.
Berbagai pihak menilai bahwa tindakan tersebut sangat tidak pantas bagi seseorang yang berada di lingkaran istana.
Warganet menilai seorang pejabat publik seharusnya mampu menjaga komunikasi dan bersikap lebih berhati-hati, terlebih ketika berhadapan dengan situasi bencana yang menyangkut ribuan korban.
Sebagian netizen bahkan mempertanyakan apakah standar etika komunikasi pejabat negara sudah disesuaikan dengan tuntutan zaman dan sensitivitas publik.
Kontroversi ini kemudian meluas menjadi diskusi soal gaya komunikasi pejabat negara di era digital.
Baca Juga: Visi Anti Korupsi Banten Makin Kencang, Fitri Suarakan Komitmen di Forum Nasional
Banyak yang menilai konten pribadi pejabat, meski dibungkus sebagai “aktivitas harian”, tidak bisa dilepaskan dari jabatan yang mereka emban.
Semua gerak dan ucapan melekat sebagai representasi institusi, bukan sekadar konten hiburan untuk media sosial.
Beberapa pengamat komunikasi publik juga angkat bicara.
Mereka menilai bahwa ketidakpekaan visual dan narasi konten yang dibuat Agung memperlihatkan kurangnya pemahaman terhadap situasi krisis.
Baca Juga: Puslabfor Bareskrim Polri Beberkan Alasan Korban Kebakaran Ruko Terra Drone Tak Dilakukan Tes DNA
“Di tengah bencana, pejabat harus fokus pada kerja dan empati, bukan pada estetika konten,” ujar seorang pengamat dalam diskusi daring.
Hingga kini, Agung belum memberikan klarifikasi resmi yang meredakan polemik.
Publik menuntut agar pejabat istana lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial, terutama saat mendampingi Presiden di wilayah terdampak bencana.
Kontroversi ini menjadi pengingat bahwa sensitivitas publik terhadap isu kemanusiaan harus ditempatkan sebagai prioritas, terlebih bagi mereka yang berada dalam lingkaran kekuasaan.***



.webp)
