POJOKSATU.ID - Kementerian Sosial RI memastikan bahwa proses pemulangan sementara ratusan siswa Sekolah Rakyat (SR) di sejumlah daerah Aceh berlangsung aman dan terkoordinasi.

Kebijakan ini diambil setelah banjir besar sejak akhir November menyebabkan akses tertutup, pasokan logistik terhenti, dan risiko keselamatan anak-anak terus meningkat.

Total 225 siswa dari tiga Sekolah Rakyat di Bireuen, Lhokseumawe, dan Pidie Jaya dipulangkan setelah kondisi darurat kian mengkhawatirkan.

Baca Juga: Jika Penataan 2026 Berjalan Lancar, Ini Daftar Hak Baru yang Bisa Diterima Guru Honorer

Di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 25 Bireuen, Kepala Sekolah Nidia Fitri menjelaskan banjir yang terjadi beberapa hari membuat jalur menuju sekolah hampir mustahil dilalui.

"Awalnya kami tahan karena banyak akses jalan yang putus dan sebagian orang tua justru berada di pengungsian," ujar Nidia, dalam keterangan tertulis, Rabu (10/12/2025) dilansir dari Detik.com

Bahkan sejumlah orang tua yang berusaha menjemput anak justru ikut terjebak karena banjir meninggi dan listrik padam hingga lima hari.

Baca Juga: Trauma Healing Gerakan Anak Negeri, Pohon Harapan untuk Anak-anak Penyintas Banjir Bandang Tapanuli Selatan

Awalnya pihak sekolah mempertahankan siswa agar tetap berada di lokasi karena banyak orang tua yang masih mengungsi.

Namun tekanan meningkat ketika para siswa terus meminta pulang demi bertemu keluarga yang juga tengah menghadapi bencana.

Kondisi makin tidak stabil setelah genap tujuh hari pasca banjir.

Baca Juga: Tim Urut Cimande Gerakan Anak Negeri jadi Alternatif Pengobatan Penyintas Bencana Sumatera

Wali asuh yang biasanya tinggal di sekolah ikut terdampak, guru tidak bisa datang karena kelangkaan BBM, dan harga bahan makanan naik tajam sampai stok permakanan tidak mencukupi.

Berdasarkan surat Status Darurat Bencana Bupati Bireuen, pihak sekolah akhirnya mengajukan pemulangan resmi ke Pusdiklatbangprof melalui PPK.

Pemulangan dilakukan bertahap. Siswa yang bisa dijemput orang tua dikawal aman menuju titik pertemuan, sementara siswa yang keluarganya sulit dihubungi diantar langsung oleh pihak sekolah.

Baca Juga: Miris! Kakek di Karawang Tinggal di Rumah Hampir Roboh, Warga Minta Bupati Turun

Beberapa bahkan harus diseberangkan satu per satu karena jembatan dekat sekolah patah akibat banjir.

Meski begitu, bangunan SRT 25 Bireuen dipastikan aman tanpa kerusakan berat. Dinas Pendidikan setempat telah meliburkan kegiatan belajar hingga 20 Desember.

Di Lhokseumawe, situasi di SRMP 33 tak jauh berbeda. Kepala Sekolah Ayadi mengatakan pemulangan dilakukan setelah vendor permakanan tak lagi sanggup menyediakan bahan masak akibat kelangkaan pasokan.

Baca Juga: OPS Mulai Panik Hadapi TPG Bulanan 2026! Validasi Dipercepat, Ini Langkah Penting di Semester Genap

Meski listrik masih sering padam, siswa dijadwalkan kembali pada 11 Desember dan ujian direncanakan tetap berlangsung pada 15 Desember.

Ia menambahkan, genset bantuan Kemensos yang dikirim lewat Subulussalam dan Banda Aceh masih tertahan di Bireuen imbas jembatan putus.

Situasi paling berat terjadi di SRT 26 Pidie Jaya. Kepala sekolah Dewi Juliana menceritakan hujan tak berhenti sejak 21 November dan puncaknya banjir bandang menerjang pada 26 November.

Banyak orang tua datang menjemput, tapi justru rumah mereka ikut terdampak parah. Wali asuh tak bisa hadir karena rumahnya terendam, sementara guru mengambil alih peran tersebut.

Baca Juga: Baru Masuk Toko Sudah Dibentak, Tiktoker Medan Ungkap Keluhan Soal Pelayanan Jutek Saat Beli Perlengkapan Banjir

Satu per satu kebutuhan dasar berhenti: listrik padam total, jaringan internet putus, vendor makanan tak mampu lagi mengirim pasokan karena harga melambung dan barang langka.

Hingga akhirnya, lewat koordinasi dengan Dinas Sosial dan PPK, seluruh siswa dipulangkan mengacu surat Darurat Bencana Bupati Pidie Jaya.

Beberapa siswa kini masih berada di pengungsian. Guru-guru melakukan home visit untuk memastikan kondisi mereka dan mendata keluarga terdampak.

Banyak anak menangis dan ingin segera bertemu orang tua mereka.

Kemensos memastikan seluruh proses pemulangan berjalan aman dan kebutuhan dasar siswa tetap dipenuhi.

Aktivitas belajar direncanakan berjalan kembali setelah kondisi stabil, akses pulih, dan logistik kembali tersedia.***