POJOKSATU.ID - Kebakaran yang melanda Gedung Terra Drone di Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Selasa siang 9 Desember 2025.

Telah berubah menjadi tragedi kelam yang menelanjangi buruknya standar keselamatan sebuah perusahaan teknologi yang selama ini tampak modern dan prestisius.

Di balik citra internasional PT Terra Drone sebagai perusahaan asal Jepang, fakta di lapangan menunjukkan lemahnya manajemen keselamatan.

Hingga berujung pada 22 korban meninggal, termasuk seorang ibu hamil tujuh bulan.

Baca Juga: Banyak Sekolah Alami Kendala E-Rapor! Operator Belum Bisa Login karena Data Belum Sinkron, Begini Cara Mengaktifkan Akun

Hingga Rabu 10 Desember 2025, polisi baru memeriksa delapan saksi, mulai dari manajemen, pegawai, hingga warga sekitar.

Ironisnya, pemilik perusahaan yang seharusnya bertanggung jawab penuh terhadap operasional gedung bahkan belum muncul untuk diperiksa.

Polisi mengaku masih mencari posisi dan alamat pasti pemilik, sebuah ironi pahit ketika puluhan keluarga korban justru sudah kehilangan anggota keluarganya.

Ketidakhadiran pemilik memperburuk spekulasi publik mengenai dugaan kelalaian dan lemahnya manajemen keselamatan gedung.

Baca Juga: Tenggat 30 Hari! DPR Desak Raja Juli Ungkap Aktor Besar Perusak Hutan Penyebab Banjir Sumatra

Kebakaran yang mulai terdeteksi pukul 12.43 WIB itu dengan cepat menjalar ke lantai-lantai utama tempat pegawai bekerja.

Tim damkar tiba pada pukul 12.50 WIB dan baru berhasil memadamkan api pukul 14.10 WIB.

Namun untuk sebagian besar karyawan, tindakan cepat itu sudah terlambat. Mayoritas korban ditemukan di lantai 3, 4, dan 5.

Lantai yang terjebak asap pekat dan minim akses penyelamatan. Sementara mereka yang berada di lantai 6 dapat melarikan diri ke rooftop.

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Susatyo Purnomo Condro.

Menjelaskan bahwa para korban meninggal akibat kehabisan oksigen dan lemas karena terperangkap asap.

Pernyataan ini memicu kemarahan publik, karena kembali memperlihatkan kelemahan fatal dalam struktur bangunan maupun sistem evakuasi gedung.

Para korban tidak terbakar api secara langsung, melainkan mati perlahan akibat sesak napas.

Sebuah kematian yang seharusnya dapat dicegah jika gedung memiliki sistem deteksi asap, ventilasi darurat, serta jalur evakuasi yang memadai.

Baca Juga: TNI dan Warga Bangun Jembatan Gantung Besi Penghubung Karawang–Bogor

Dua petugas damkar mengalami luka ringan dalam upaya penyelamatan, sementara Kapolsek Kemayoran Kompol Agung Adriansyah mengalami luka berat di tangan.

Namun perhatian publik tetap tertuju pada fakta bahwa puluhan pegawai tewas karena tidak mampu keluar dari gedung.

Seolah-olah mereka bekerja di bangunan tanpa standar keselamatan dasar.

Terungkapnya fakta bahwa pemimpin kantor Terra Drone di Kemayoran bukan warga negara Jepang menambah pertanyaan baru.

Baca Juga: Harta AKBP William Terbongkar! Rp 1,05 M Meski Diduga Tagih Setoran dan Potong Anggaran

Tentang struktur manajemen dan pengawasan operasional. Status perusahaan asing ternyata tidak menjamin kualitas manajemen di lapangan.

Banyak pihak mempertanyakan apakah gedung tersebut menjalani audit keselamatan berkala.

Atau hanya mengandalkan reputasi perusahaan induk tanpa pengawasan yang memadai.

Sementara polisi terus memeriksa saksi, keluarga korban menuntut transparansi penuh dan meminta agar proses hukum tidak berhenti pada level staf.

Melainkan menyasar pemilik dan manajemen puncak yang dianggap lalai mengawasi standar keselamatan.

Tragedi ini bukan sekadar insiden kebakaran, melainkan cerminan kelalaian sistemik.

Yang merenggut nyawa orang-orang yang seharusnya dilindungi oleh perusahaan tempat mereka bekerja.***