POJOKSATU.ID - Pernyataan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan kembali menyulut kontroversi.

Saat publik mempertanyakan kerusakan parah Taman Nasional Tesso Nilo.

Yang dianggap memicu bencana ekologis di Sumatra Zulhas justru memilih membela diri secara frontal.

Ia menegaskan bahwa Tesso Nilo berada di Provinsi Riau.

Baca Juga: Wajib Coba! 7 Strategi Cerdas Agar Lolos PPPK dan CPNS 2026, Banyak Peserta Tidak Tahu Nomor 3

Sehingga tidak ada kaitannya dengan bencana banjir dan longsor yang menghantam Aceh, Sumut, dan Sumbar.

Zulhas menegaskan, Yang dipermasalahkan kepada Zulkifli Hasan Tesso Nilo. Tesso Nilo itu di Riau.

"Sementara Riau tidak ada bencana apa pun. Tapi bencana itu yang salah Zulkifli Hasan,” ujar Zulhas, dikutip dari CNN, 8 Desember 2025.

Pernyataan itu memicu reaksi keras. Publik menilai Zulhas terkesan cuci tangan, menolak tanggung jawab.

Baca Juga: Pemerintah Gelontorkan Lebih dari Rp11,1 Triliun TPG untuk 1,1 Juta Guru ASN Daerah

Dan mengabaikan fakta bahwa kerusakan ekologis di Sumatra saling berhubungan.

Mulai dari deforestasi, perubahan aliran sungai, hingga degradasi habitat yang berkontribusi terhadap bencana lintas provinsi.

Zulhas menegaskan Tesso Nilo berstatus taman nasional dan tidak mungkin diberikan izin pembukaan lahan oleh menteri mana pun.

Termasuk dirinya saat menjabat Menteri Kehutanan 2009–2014.

Namun publik mengingatkan bahwa kerusakan Tesso Nilo bukan terjadi karena izin menteri.

Melainkan karena pembiaran, lemahnya penegakan hukum, dan berkembangnya jaringan sawit ilegal yang merajalela.

Penjelasan Zulhas dianggap tak menjawab fakta lapangan, ribuan hektare Tesso Nilo telah berubah menjadi kebun sawit ilegal.

Mafia lahan beroperasi tanpa sentuhan hukum berarti, Gajah Sumatera kehilangan habitat dan terpaksa masuk ke permukiman.

Baca Juga: Kapan CPNS 2026 Dibuka? Simak Prediksi Jadwal dan Informasi Resmi Terbaru

Sementara itu, Kementerian Kehutanan sejak 2014 sebenarnya telah menetapkan luas taman nasional mencapai 81.793 hektare melalui SK resmi.

Namun sejak itu, wilayah konservasi tersebut terus menyusut secara de facto.

Dalam pembelaannya, Zulhas juga menyinggung kembali wawancaranya.

Dengan Harrison Ford saat keduanya membahas kerusakan hutan Tesso Nilo beberapa tahun lalu.

Baca Juga: Ratusan Honorer Dogiyai Ancam Aksi Besar! Tuntut SK CPNS dan PPPK yang Tak Kunjung Terbit

Aksi itu dianggap publik sebagai upaya mengalihkan isu.

Karena kerusakan yang dipersoalkan hari ini jauh lebih buruk daripada era ketika Ford menegurnya.

“Waktu reformasi diserbu, di situ ada 50 ribu masyarakat. Terus salah saya apa?” kata Zulhas.

Pernyataan itu memancing sinisme baru: jika 50 ribu orang menguasai taman nasional, mengapa penertiban tidak dilakukan sejak lama?

Mengapa justru membiarkan wilayah konservasi jatuh ke tangan pengusaha sawit ilegal?

Kerusakan Tesso Nilo bukan sekadar isu lokal. Ia adalah simbol kegagalan negara dalam menjaga hutan yang seharusnya menjadi warisan ekologis nasional.

Perambahan liar, kepentingan ekonomi, hingga pembiaran berlapis membuat kawasan ini runtuh sedikit demi sedikit.

Kini publik menuntut jawaban, bukan pembelaan diri. Butuh tindakan konkret, bukan sekadar narasi lama bahwa “itu bukan salah saya”.***