POJOKSATU.ID - Misteri ribuan kayu gelondongan yang hanyut dan menumpuk di sejumlah wilayah saat banjir bandang.

Yang menerjang Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara akhirnya menemukan titik terang dan sayangnya, titik itu gelap.

Temuan terbaru Polri membongkar bahwa peristiwa ini tidak sepenuhnya murni bencana alam.

Ada jejak kejahatan manusia yang selama ini tertutup rapat oleh alibi cuaca ekstrem dan longsoran alami.

Baca Juga: Rencana TPG Bulanan Peluang Besar dan Risiko Besar! Bagaimana Cara Guru Bisa Menyesuaikan Diri?

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo tak lagi memakai bahasa teduh.

Ia memastikan bahwa batang-batang kayu yang memenuhi sungai dan bibir pantai di berbagai wilayah Sumatera bukan berasal dari pohon yang tumbang sendiri.

Banyak di antaranya menunjukkan bekas potongan gergaji mesin (chainsaw).

Sebuah bukti telanjang bahwa tangan manusia lebih dulu merusak hutan sebelum alam “mengirim balik” sisanya lewat banjir ganas.

Baca Juga: Perusahaan Anak BRI Bukukan Laba Rp8,2 Triliun, Sumbang Hampir 20 Persen bagi Induk

“Kita dapati ada beberapa yang ada bekas potongan dari chainsaw. Itu yang akan kita dalami,” tegas Kapolri.

Pernyataan ini sekaligus mematahkan narasi lama bahwa banjir membawa pepohonan liar yang tumbang akibat cuaca buruk.

Alam tidak punya chainsaw, dan itu fakta yang sulit dibantah.

Dari temuan ini, dugaan mengarah kuat pada aktivitas penebangan liar yang terus berlangsung di hulu sungai.

Tebangan-tebangan ilegal yang gagal diangkut diduga sengaja ditinggalkan begitu saja, menunggu waktu untuk hanyut ketika banjir datang.

Inilah potret muram pengelolaan hutan yang selama ini hanya diperbincangkan setengah hati, namun kini terbentang gamblang di depan publik.

Tak ingin bukti besar ini lenyap, Kapolri memerintahkan tim gabungan Polri bersama Kementerian Kehutanan untuk melakukan penelusuran menyeluruh.

Aliran sungai dari hilir ke hulu akan ditelusuri dengan metode tracking guna memastikan dari mana kayu-kayu tersebut ditebang.

Baca Juga: Opang, Bocah 13 Tahun di Karawang yang Jadi Buruh Tani demi Bertahan Hidup

Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) pun bersiap turun untuk memburu pihak-pihak yang diduga menjadi dalang di balik kerusakan hutan yang memicu bencana ini.

Dampak dari perusakan hutan ini tidak main-main. Di Sumatera Barat, Pantai Parkit di Padang berubah seketika menjadi “gudang kayu” dadakan.

Bercampur sampah dan material banjir yang memanjang sejauh mata memandang.

Di Sumatera Utara, Tapanuli Selatan hingga Sibolga dihantam ribuan gelondongan kayu yang berhamburan tanpa kendali.

Baca Juga: Telkom Hadirkan WiFi Gratis di Tujuh Posko Bencana untuk Dukung Komunikasi Warga

Infrastruktur dan pemukiman warga rusak parah dihantam kayu-kayu yang semestinya tidak berada di sungai.

Namun yang paling memilukan terjadi di Aceh.

Di Desa Meunasah Lhok, tumpukan kayu dan material banjir tidak hanya merenggut rumah warga, tetapi juga menewaskan seekor Gajah Sumatera.

Hewan besar yang dikenal tangguh itu tak mampu melawan hantaman kayu-kayu tebal hasil tangan manusia.

Bila gajah saja bisa tewas karena “dosa” penebangan liar, bagaimana nasib manusia yang tinggal di sepanjang aliran sungai?

Bencana ini bukan hanya persoalan alam, tetapi kenyataan pahit tentang bagaimana kerakusan manusia mengundang petaka.

Penebangan ilegal bukan lagi isu pinggiran, melainkan ancaman nyata yang merusak ekosistem, mengancam nyawa, dan meninggalkan luka panjang bagi warga.***