POJOKSATU.ID - Rasa duka dan keputusasaan menyelimuti Desa Garoga, Kecamatan Batangtoru, Tapanuli Selatan.

Di tengah tumpukan lumpur, kayu gelondongan, dan puing-puing rumah yang hancur, warga menyambut kedatangan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dengan air mata.

Bukan karena harapan, tetapi karena luka yang belum ada obatnya.

Kisah paling memilukan datang dari Nurhayati Siregar (76), yang rumahnya lenyap tanpa sisa setelah banjir bandang pada Selasa 25 November 2025.

Baca Juga: Dokumen Kependudukan Hilang Saat Banjir? Disdukcapil Medan Siapkan Layanan Cepat

Getaran suaranya mencerminkan seluruh penderitaan warga.

“Lihatlah, Pak kayu-kayu besar itu. Sudah habis rumah saya, Pak Tertimbun, Pak tertimbun,” ucapnya sambil menangis.

Nyaris tanpa tempat berlindung, Nurhayati memohon agar pemerintah membangun kembali rumah-rumah warga.

“Tolong kami Pak, Tidak ada lagi tempat tinggal kami. Sudah habis semuanya.”

Baca Juga: Gerakan Tanam Ribuan Pohon Digelar di Jabar dan Jateng lewat Roots of Energy

Namun jawaban yang diterima warga jauh dari kata memadai. Bahlil menyebut pemerintah hanya akan mengirim 250 tenda.

“Tadi Kepala Desa minta 250 tenda. Minggu depan kami serahkan,” kata Bahlil, dikutip dari Kompas, 3 Desember 2025.

Di tengah jumlah pengungsi yang mencapai 538.792 orang, janji 250 tenda terasa seperti tetesan air di padang tandus nyaris tak berarti.

Apalagi tenda tersebut baru akan datang "minggu depan", sementara warga tinggal di posko darurat seadanya dengan kondisi semakin memburuk.

Instruksi Membersihkan Kayu Besar, Tapi Solusi Utama Tak Tersentuh

Selain janji tenda, Bahlil juga meminta ESDM dan perusahaan tambang PT Agincourt Resources untuk membantu membersihkan material banjir.

“Saya minta ESDM bersihkan kayu-kayu ini,” ucapnya.

Instruksi yang terdengar sekadar teknis, sementara persoalan utama tidak adanya tempat tinggal.

Baca Juga: 12 Kategori PPPK Paruh Waktu Yang Tak Bisa Diangkat Jadi Penuh Waktu, Bahkan Berisiko Diblacklist

Minimnya logistik, buruknya kondisi kesehatan pengungsi, masih belum disentuh secara serius.

Kehadiran seorang menteri seharusnya membawa solusi strategis, bukan sekadar janji distribusi tenda dan imbauan pembersihan sungai.

Korban Terus Bertambah, Warga Masih Berjuang Sendiri

Di tengah angka-angka mengerikan itu, warga masih mengeluhkan minimnya tenda, kurangnya makanan siap saji, dan tidak meratanya distribusi bantuan.

Baca Juga: Heboh! Pria Ngaku Dimintai Uang Saat Pinjam Mobil Kodim, TNI Bantah Keras Tidak Benar!

Banyak di antara mereka tidur beralaskan terpal basah dan berebut air bersih yang jumlahnya sangat terbatas.

Menurut warga bantuan tidak cukup, kami butuh rumah, bukan janji.

Teriakan warga yang kehilangan rumah menggambarkan realita getir bantuan yang datang tidak sebanding dengan kebutuhan.

Mereka menuntut perhatian serius pemerintah, bukan kunjungan kilat yang berakhir dengan janji-janji birokratik.

Kondisi lapangan yang memprihatinkan membuat banyak warga mempertanyakan komitmen pemerintah pusat dalam menangani bencana sebesar ini.

Di media sosial, komentar-komentar bernada kecewa mulai membanjiri unggahan terkait kunjungan Bahlil.

Minggu depan, ketika tenda-tenda itu dijanjikan tiba, warga sudah seminggu terombang-ambing dalam kedinginan, kelaparan.

Dan ketidakpastian menunggu negara hadir lebih dari sekadar ucapan belasungkawa.***