POJOKSATU.id- Panik massal melanda pesisir Pidie Jaya — Aceh, Senin (1/12) dini hari.

Dalam gelap gulita, ribuan warga berhamburan ke arah perbukitan usai tersebar kabar bohong tentang kenaikan air laut dan ancaman tsunami.

Kepanikan itu membuat banyak orang tersandung, terjatuh, bahkan terluka.

Baca Juga: Kata Luhut Izin Domestik, Tapi Bandara Kok Jadi Internasional? Ada Tangan Ajaib di Balik Layar?

Malang tak dapat ditolak seorang warga lanjut usia tewas dalam situasi kacau panik tersebut.

Kabar hoaks soal tsunami ini menyebar cepat di tengah situasi darurat akibat banjir bandang serta longsor yang sedang melanda Aceh.

Tanpa waktu untuk mempertimbangkan kebenaran, masyarakat langsung bereaksi.

Baca Juga: Pemkot Tangsel Tekankan RT RW Garda Depan Pelayanan Publik hingga Kebersihan Lingkungan

Dalam sekejap, desa berubah menjadi medan lari anak-anak, wanita, dan lansia sama-sama saling dorong, berebut jalan menuju tempat tinggi

Di antara kerumunan panik itu, seorang pria bernama Muhammad (73) menjadi korban.

Meski sudah uzur dan punya riwayat penyakit jantung, ia ikut berlari  takut apa yang akan terjadi.

Baca Juga: Basarnas Kekurangan Personel dan Sarana Prasarana Evakuasi Banjir Bandang Sumatera

Namun langkahnya terhenti ketika ia terjatuh di tengah keramaian.

Upaya menyelamatkannya sia-sia. Ia meregang nyawa sebelum sempat tertolong.

Keluarga dan tetangga terpukul, mengungkapkan kesedihan yang mendalam sekaligus kemarahan atas kabar palsu yang memicu tragedi malam itu.

Kegelapan malam semakin memperparah kebingungan. Banyak yang terjatuh, saling injak, dan kewalahan.

Suara tangisan, jeritan, dan teriakan menyatu dalam satu kekacauan besar.

Baca Juga: Tukin PNS Bakal Berubah Total, Menkeu Purbaya Dorong Sistem Baru Berbasis Kinerja!

Panik ini bukan sekadar reaksi berlebihan, tapi manifestasi dari rasa takut kolektif yang menghantui komunitas ini sejak tsunami besar pada 26 Desember 2004.

Kenangan trauma lama seperti tak pernah hilang dalam ingatan warga.

Jejak Trauma Lama Memantik Kepanikan Massal.

Baca Juga: Kata Luhut Izin Domestik, Tapi Bandara Kok Jadi Internasional? Ada Tangan Ajaib di Balik Layar?

Reaksi spontan warga tak lepas dari sejarah kelam yang melekat di benak banyak keluarga di Pidie Jaya.

​ Saat tsunami dahsyat 2004 menghantam Aceh, banyak dari mereka kehilangan sanak-saudara, rumah, dan harapan.

Trauma itu masih menghantui, terutama saat muncul informasi soal tsunami entah benar atau palsu.

Baca Juga: Pemkot Tangsel Tekankan RT RW Garda Depan Pelayanan Publik hingga Kebersihan Lingkungan

Menanggapi situasi, Polres Pidie Jaya bergerak cepat. Lima orang diduga penyebar hoaks itu diamankan dan tengah menjalani pemeriksaan intensif.

Polisi masih menelisik motif serta apakah penyebaran itu dilakukan sengaja atau keliru dalam situasi tertekan.

Langkah ini penting, tidak hanya soal hukum. Tetapi untuk memberikan pelajaran bahwa di momen krisis.

tanggung jawab atas informasi yang disebar jauh lebih besar dari sekadar “cuma kabar”. Informasi keliru dapat mengundang korban jiwa.

Polres Pidie Jaya juga mengimbau warga agar tidak mudah terprovokasi, mengecek kebenaran informasi, dan mengutamakan komunikasi resmi  terutama ketika situasi sudah genting.

Kejadian di Pidie Jaya malam itu menunjukkan satu hal mendasar di era informasi cepat dan menyebar massif, hoaks bukan cuma perkara reputasi atau opini.

Baca Juga: Basarnas Kekurangan Personel dan Sarana Prasarana Evakuasi Banjir Bandang Sumatera

Di saat krisis, hoaks bisa membawa bencana nyata.***