POJOKSATU.id — Tim advance Gerakan Anak Negeri terkendala masuk ke lokasi bencana Aceh Sumut dan Sumbar lantaran krisis BBM di Medan.

Krisis BBM di Kota Medan ini membuat mobilitas relawan mendukung penanganan bencana menjadi tersendat.

Warga dan relawan mengeluhkan sulitnya mendapatkan BBM, bahkan untuk keperluan mendukung proses evakuasi dan bantuan di lokasi bencana.

Sejumlah SPBU di Medan mulai membatasi penjualan BBM hingga Rp200.000 per transaksi dengan antrean panjang terjadi di seluruh penjuru kota.

Baca Juga: Dampak Banjir Membesar, Kepala BNPB Minta Maaf ke Bupati Tapsel dan Jelaskan Alasan Belum Ada Status Bencana Nasional

Berdasarkan pengamatan di lapangan hingga pukul 01.30 WIB, kendaraan mengular puluhan meter dari pintu masuk SPBU.

Selain di SPBU, ketersediaan BBM di pengecer eceran juga semakin menipis.

Salah seorang driver travel, Nahwi mengakui harga BBM eceran mencapai Rp25.000 per liter di beberapa tempat.

Baca Juga: WALHI Bongkar Pemilik Asli Tambang Martabe, Rakyat Kebanjiran, Korporasi Panen Cuan

Itu pun saat ini sudah tidak beroperasi lagi lantaran keterbatasan kesediaan.

Ia menyebutkan, kondisi ini membuat banyak relawan dan warga kesulitan mengakses bahan bakar untuk keperluan sehari-hari dan penanganan bencana.

"Ya, mau bagaimana lagi, kondisinya seperti ini," ucap dia pasrah.

Baca Juga: Thailand Kasih Rp1 Miliar ke Keluarga Korban Banjir, Bencananya Sama Tapi Kompensasinya Beda, Indonesia Berapa?

Dampaknya, para driver travel enggan melakukan perjalanan ke lokasi bencana karena kekurangan BBM.

Situasi ini memperlambat distribusi bantuan dan memperparah kondisi di lapangan.

Menurut dia, beberapa pemilik kendaraan roda empat memilih mengisi BBM di rest area tol yang jarang terjamah pengendara sebagai solusi sementara.

Mereka menganggap lokasi tersebut lebih aman dan cepat, meskipun harus mengeluarkan biaya tambahan.

Kondisi ini menunjukkan betapa krisis BBM di Medan semakin memperumit upaya penanganan bencana dan memperlambat mobilitas warga serta relawan yang berjuang di tengah situasi sulit ini.

Sayangnya, di rest area pun sudah kehabisan stok BBM.

"Kami berharap pemerintah dan pihak terkait segera mengambil langkah strategis untuk mengatasi kekurangan bahan bakar, agar distribusi bantuan dapat berjalan lebih lancar," harap dia.

Baca Juga: Medsos Sudah Bilang Mencekam Pas di Lapangan Lebih Parah, Kepala BNPB Akhirnya Minta Maaf, Netizen Sebut Kemana Aja Pak?

Dampak menipisnya ketersediaan BBM juga dialami tim relawan yang didampingi anggota Kesehatan Kodam (Kesdam) 1/Bukti Barisan, Srerda Dimas Fadillah.

Semua SPBU di sepanjang Medan hingga wilayah Sidompuan nyaris disesaki kendaraan, baik roda dua dan roda empat.

Bahkan sebagian SPBU mulai tidak beroperasi lantaran ketidaktersediaan BBM sejak Sabtu 29 November 2025 lalu.

Bahkan tim relawan terpaksa menempuh jarak 215 kilometer dari Medan untuk mendapatkan bahan bakar.

Baca Juga: Heboh Bupati Gus Irawan Bongkar Surat Kemenhut Soal Penebangan Liar, Sudah Kita Stop Tapi Tiba-Tiba Dibuka Lagi!

Itupun tim harus rela mengantre hingga satu jam lebih.

"Alhamdulillah, kita masih bisa kebagian meski harus mengantre cukup panjang," ujar ketua tim Advance Gerakan Anak Negeri, Iqbal Muhammad, Senin 1 Desember 2025.

Saat ini, tim masih melakukan perjalanan menuju Sidompuan.

Jika sesuai rencana dan lancar, butuh waktu setidaknya sekitar 7 jam dari Pematang Siantar untuk menembus lokasi bencana.***