POJOKSATU.ID - Penggunaan QRIS sebagai instrumen pembayaran digital di Indonesia terus mencatat lonjakan yang signifikan.

Dalam waktu relatif singkat sejak diperkenalkan pada 2019 oleh Bank Indonesia, QRIS kini telah menempati posisi teratas sebagai metode pembayaran paling populer.

Hingga saat ini, tercatat 58 juta konsumen aktif menggunakan QRIS, sementara jumlah merchant yang menerima pembayaran melalui QRIS telah menembus lebih dari 40 juta di seluruh Indonesia.

Baca Juga: Bansos 30 November 2025 Cek BLT, BPNT PKH, Begini Cara Pastinya

Capaian ini menjadi sorotan karena pertumbuhan QRIS jauh lebih cepat dibandingkan kartu kredit yang sudah eksis sejak era 1980-an.

Dengan perkembangan yang lebih agresif dan akses yang semakin mudah, QRIS mampu mengubah kebiasaan masyarakat dalam bertransaksi.

Baik untuk kebutuhan harian maupun transaksi skala kecil yang sebelumnya tidak tersentuh pembayaran non-tunai.

Baca Juga: Panduan Cepat Cek Bansos 2025 Cukup KTP, KK atau SKTM Lewat Aplikasi Resmi

Tidak hanya mendominasi pasar domestik, ekspansi QRIS kini merambah ke level internasional.

Pengguna Indonesia sudah dapat memakai QRIS di sejumlah negara Asia, seperti Malaysia, Thailand, Singapura, dan Jepang.

Bahkan, China negara dengan pengguna dompet digital terbesar di dunia telah memasuki tahap uji coba penggunaan QRIS.

Baca Juga: Bobrok! Uang Atlet Difabel Diduga Disalahgunakan untuk Mobil Mewah dan Kampanye Caleg di Bekasi

Ini menjadi langkah penting dalam memperkuat posisi QRIS sebagai sistem pembayaran lintas negara yang tumbuh paling cepat di kawasan Asia.

Masuknya QRIS ke berbagai negara juga memberi keuntungan bagi wisatawan Indonesia.

Mereka dapat bertransaksi dengan lebih mudah tanpa perlu menukar mata uang fisik, cukup dengan memindai kode QR lokal yang telah terintegrasi dengan QRIS.

Baca Juga: Ironis! Siklon Senyar Lumpuhkan Aceh, Pertolongan Pertama Justru Datang dari Malaysia

Hal ini turut mendukung efisiensi biaya dan kenyamanan wisatawan ketika bepergian ke luar negeri.

Dari sisi pola transaksi di dalam negeri, data menunjukkan bahwa sektor transportasi menjadi pengguna terbesar QRIS.

Sekitar 85 persen transaksi yang menggunakan QRIS berasal dari layanan transportasi, baik ojek online, angkutan umum, maupun pembayaran parkir di area komersial.

Baca Juga: Ironis! Siklon Senyar Lumpuhkan Aceh, Pertolongan Pertama Justru Datang dari Malaysia

Hal ini menandakan bahwa masyarakat memerlukan metode pembayaran yang cepat, mudah, dan praktis untuk kebutuhan mobilitas sehari-hari.

Meski demikian, tidak semua sektor mengadopsi QRIS secara dominan. Dunia travel masih menjadi wilayah di mana kartu kredit tetap unggul.

Sekitar 87 persen transaksi untuk kebutuhan perjalanan — mulai dari pembelian tiket pesawat, pemesanan hotel, hingga paket wisata masih menggunakan kartu kredit.

Ini menunjukkan bahwa preferensi pembayaran tetap mengikuti karakteristik layanan, terutama transaksi bernilai besar yang membutuhkan fitur cicilan, asuransi perjalanan, atau perlindungan pembelian.

Baca Juga: Darurat Sumatra Memanas! Menkeu Purbaya Siap Gelontorkan Dana Tanpa Banyak Tanya

Tren bertumbuhnya QRIS juga menunjukkan adanya transformasi besar dalam gaya hidup masyarakat yang semakin terbiasa dengan transaksi digital.

Penguatan infrastruktur pembayaran, banyaknya promo dari penyedia layanan, serta kemudahan integrasi dengan aplikasi dompet digital menjadi faktor pendorong percepatan penggunaan QRIS.

Ke depan, ekspansi QRIS diprediksi akan semakin luas.

Dengan semakin banyak negara yang bergabung dan integrasi antar-sistem pembayaran yang makin kuat, QRIS berpotensi menjadi standar baru dalam transaksi digital lintas negara.

Sementara di dalam negeri, QRIS akan terus bersaing dengan kartu kredit, masing-masing melayani kebutuhan berbeda sesuai karakteristik pengguna.

Pertumbuhan pesat ini sekaligus menandai bagaimana pembayaran digital semakin mengakar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, membawa perubahan besar dalam ekosistem ekonomi berbasis teknologi.***