POJOKSATU.id - Banjir dan longsor yang melanda Kota Padang pada akhir November 2025 meninggalkan kerusakan infrastruktur terbesar dalam satu dekade terakhir.
Berdasarkan laporan resmi BPBD Kota Padang, total kerugian akibat bencana tersebut mencapai Rp 202,8 miliar.
Angka yang mencerminkan skala kehancuran yang tidak hanya melumpuhkan akses transportasi.
Baca Juga: Tarif Rp 3.000, Tapi Ribet? Kereta Petani Pedagang Tuai Kontroversi di Hari Pertama!
Tetapi juga mengguncang mobilitas ekonomi dan layanan publik kota.
Dari keseluruhan nilai kerugian itu, komponen terbesar berasal dari kerusakan jembatan, yang mencapai Rp 127 miliar.
Empat jembatan tercatat putus total, sementara dua lainnya mengalami rusak berat.
Baca Juga: Syarat Wajib Lapor Diri PPG Guru Tertentu Tahap 5! Jangan Sampai Ada yang Terlewat
Jembatan Gunung Nago yang menghubungkan Kecamatan Pauh dan Lubuk Kilangan menjadi salah satu titik kerusakan paling parah.
Dengan estimasi nilai kerugian mencapai Rp 45 miliar.
Terjangan arus deras merusak struktur pondasi dan menyebabkan jembatan ini ambruk sepenuhnya.
Baca Juga: PPG Guru Tertentu Tahap 5 Masuk Fase Penting! Lapor Diri Wajib Dilakukan Mulai Sekarang
Memutus jalur utama bagi warga yang bergantung pada akses tersebut untuk bekerja, berdagang, dan beraktivitas harian.
Kerusakan besar juga terjadi pada Jembatan Kalawi di kawasan Limau Manis.
Jembatan ini mengalami putus total dengan nilai kerusakan diperkirakan Rp 35 miliar.
Dengan dua jembatan penting runtuh bersamaan, distribusi barang, mobilitas mahasiswa di kawasan pendidikan, hingga aktivitas perekonomian lokal langsung terganggu.
Penutupan dua jalur strategis ini menjadikan sejumlah kawasan terisolasi, sekaligus memperpanjang waktu tempuh warga yang terpaksa memutar jauh untuk mencapai pusat kota.
Baca Juga: PPG Guru Tertentu Tahap 5 Masuk Fase Penting! Lapor Diri Wajib Dilakukan Mulai Sekarang
Selain jembatan, kerusakan berat juga melanda akses jalan utama di beberapa wilayah.
Jalan menuju Batu Busuk menjadi salah satu titik paling terdampak setelah terputus total akibat sapuan banjir.
Putusnya jalur ini memaksa layanan darurat dan distribusi logistik tersendat, sekaligus membuat warga di wilayah tersebut kesulitan memperoleh suplai kebutuhan dasar.
Baca Juga: Tarif Rp 3.000, Tapi Ribet? Kereta Petani Pedagang Tuai Kontroversi di Hari Pertama!
Kerusakan tidak berhenti pada infrastruktur transportasi. Sistem layanan air bersih Kota Padang ikut terdampak berat.
Fasilitas milik Perumda Air Minum Padang, mulai dari intake air, pipa distribusi, hingga pompa utama, mengalami kerusakan signifikan.
Sejumlah titik distribusi air berhenti beroperasi sehingga ribuan warga harus antre untuk mendapatkan air bersih.
Baca Juga: FIFGROUP Dorong Inklusi Keuangan Lewat Layanan One Stop Financial Solution Astra Financial
Situasi ini menambah daftar kerugian nonmaterial yang sesungguhnya sangat berdampak bagi aktivitas sehari-hari, khususnya di kawasan pemukiman padat.
Meskipun nilai resmi kerusakan fasilitas air belum dipisahkan secara rinci, laporan BPBD Padang menegaskan bahwa komponen ini turut menyumbang bagian besar dalam total kerugian Rp 202,8 miliar.
Kerusakan pada sistem air bersih memperlihatkan bahwa bencana kali ini tidak hanya merobohkan infrastruktur fisik, tetapi juga mengganggu layanan dasar yang vital bagi keberlangsungan hidup warga.
Kerugian berikutnya berasal dari sektor pengendalian banjir dan perlindungan tebing.
Sejumlah tebing di wilayah perbukitan longsor, menghancurkan talud dan turap yang sebelumnya berfungsi menahan aliran air.
Kondisi ini bukan hanya menambah total nilai kerusakan, tetapi juga meningkatkan risiko bencana susulan, terutama ketika curah hujan masih tinggi.
Jika ditarik dalam konteks waktu yang lebih panjang, skala kerusakan kali ini dinilai yang paling parah dalam sepuluh tahun terakhir.
Baca Juga: FIFGROUP Dorong Inklusi Keuangan Lewat Layanan One Stop Financial Solution Astra Financial
Jumlah jembatan yang putus dalam satu rangkaian kejadian belum pernah sebesar ini.
Nilai kerugian yang menembus angka dua ratus miliar juga menunjukkan bahwa intensitas dan dampak cuaca ekstrem semakin meningkat.
Menekan infrastruktur kota yang sebagian sudah berusia tua dan membutuhkan revitalisasi.
Baca Juga: Tarif Rp 3.000, Tapi Ribet? Kereta Petani Pedagang Tuai Kontroversi di Hari Pertama!
Bagi pemerintah daerah, angka kerugian Rp 202,8 miliar bukan hanya catatan bencana, tetapi peringatan keras akan perlunya percepatan penguatan infrastruktur.
Sementara bagi warga, kerusakan ini menjadi pengingat bahwa risiko bencana di Kota Padang semakin nyata, terutama di wilayah rawan banjir dan perbukitan.
Bencana kali ini menandai bahwa Padang berhadapan bukan hanya dengan cuaca ekstrem.
Tetapi juga tantangan besar dalam menjaga infrastruktur vital tetap tangguh menghadapi perubahan iklim dan tekanan geografis kota.
Baca Juga: Tarif Rp 3.000, Tapi Ribet? Kereta Petani Pedagang Tuai Kontroversi di Hari Pertama!
Pemulihan akan membutuhkan waktu panjang, dan kerugian yang tercatat hari ini baru sebagian dari dampak yang dirasakan masyarakat di lapangan.***




