POJOKSATU.ID -Indonesia memang menjadi produsen kelapa sawit terbesar di dunia, tetapi di balik kejayaan komoditas “emas hijau” ini, kritik terus bermunculan.
Deforestasi masif, konflik agraria, hingga kerusakan ekologis yang mengancam kehidupan masyarakat.
Ironisnya, di saat berbagai wilayah terdampak banjir dan longsor, industri sawit justru terus mencetak para konglomerat baru dengan kekayaan melambung hingga triliunan rupiah.
Berikut daftar 11 raja sawit yang kekayaannya menanjak tajam di tengah kontroversi industri.
1. Martua Sitorus, Mantan Raja Wilmar yang Tetap Berjaya
Martua Sitorus mendirikan raksasa sawit Wilmar, yang kini memiliki lebih dari 232 ribu hektar lahan.
Meski sudah keluar dari Wilmar sejak 2018, ia melanjutkan gurita bisnisnya melalui KPN Corporation.
Forbes mencatat kekayaannya US$ 3,6 miliar, sementara jejak deforestasi di industri sawit masih jadi sorotan berbagai lembaga lingkungan internasional.
2. Anthoni Salim, Raksasa Pangan yang Menguasai Ribuan Hektar Sawit
Selain Indomie, Salim Group menguasai sawit lewat Indofood Agri, LSIP, dan SIMP. Beberapa tahun terakhir, grup ini agresif memperluas lahan.
Di tengah kritik soal emisi dan limbah industri, kekayaan Anthoni Salim justru naik menjadi US$ 12,8 miliar.
3. Sukanto Tanoto, RGE Group yang Kerap Disorot Isu Lingkungan
Melalui RGEI, Sukanto menguasai jaringan perkebunan sawit dan pabrik pulp-kertas.
Perusahaannya berulang kali dikaitkan dengan isu deforestasi di berbagai laporan internasional.
Namun, kekayaan Sukanto tetap stabil di angka US$ 3,7 miliar.
4. Ciliandra Fangiono, Raja Sawit Muda
CEO First Resources ini merupakan konglomerat paling muda di daftar orang terkaya Indonesia.
Perusahaannya menguasai lahan sawit ratusan ribu hektare.
Kekayaannya mencapai US$ 2,4 miliar.
Baca Juga: Update Terbaru Korban Galodo Sumbar, 90 Meninggal Dunia, 85 Orang Masih Hilang
5. Peter Sondakh, Pemilik Eagle High di Tengah Sorotan Publik
Owner Rajawali Group ini mengendalikan PT Eagle High Plantations (BWPT).
Perusahaan sawitnya pernah masuk radar berbagai lembaga lingkungan.
Meski begitu, kekayaannya tetap besar, yakni US$ 3,2 miliar.
Baca Juga: Cegah Pungli dan Utamakan Lansia, Jatijajar Depok Pastikan BLTS Rp900 Ribu Utuh ke Penerima
6. Theodore Rachmat, Triputra Group dan Ekspansi Agresif Lahan Sawit
Bos Triputra Agro Persada ini juga menjadi pemain besar sawit nasional.
Kekayaannya mencapai US$ 4,4 miliar, sementara ekspansi lahan sawit terus diperdebatkan karena dampaknya pada kawasan hutan.
7. Hashim Djojohadikusumo, Dinasti Politik dan Bisnis Sawit
Baca Juga: Dari Lelang Spektrum ke Pelanggan Rumah Tangga, Untung Siapa di Proyek Internet Rakyat?
Arsari Group milik Hashim bergerak di berbagai sektor, termasuk sawit.
Dengan kekayaan US$ 685 juta, bisnisnya juga kerap dikritik oleh pegiat lingkungan yang menilai regulasi terlalu longgar bagi korporasi besar.
8. Arini Subianto, Pewaris Kekayaan Sawit dan Kayu
Arini memimpin Persada Capital Investama yang mengendalikan bisnis sawit dan kayu warisan ayahnya.
Kekayaannya US$ 2 miliar, namun sektor ini masih menjadi sorotan karena emisi dan kerusakan hutan.
9. Bachtiar Karim, Musim Mas, Raksasa Sawit Global
Musim Mas adalah salah satu perusahaan sawit terbesar dunia dengan omset miliaran dolar.
Bachtiar memiliki kekayaan US$ 4,1 miliar, sementara aktivis lingkungan menyoroti praktik industri yang dianggap belum sepenuhnya berkelanjutan.
10. Susilo Wonowidjojo, Dari Rokok ke Kebun Sawit
Pemilik Gudang Garam ini merambah sawit melalui Makin Group.
Kekayaannya mencapai US$ 2,9 miliar, namun ekspansi kebun sawit masih dituding sebagai pemicu hilangnya tutupan hutan di beberapa wilayah.
11. Keluarga Widjaja, Imperium Golden Agri-Resources
Keluarga ini menguasai salah satu produsen sawit terbesar dunia dan minyak goreng merek Filma.
Baca Juga: Dari MoU Hingga BTS, Bagaimana Internet Rakyat Berharap Ubah Peta Akses Internet Nasional?
Kekayaannya mencapai US$ 18,9 miliar, tetapi perusahaan mereka sering mendapat sorotan tajam dari berbagai lembaga pengawas lingkungan.
Industri sawit jelas telah menjadi ladang keuntungan tak ternilai bagi para konglomerat Indonesia.
Meski diwarnai isu lingkungan dan tata kelola, komoditas ini tetap menjadi penopang ekonomi nasional dan sumber kekayaan para taipan Nusantara.***



.webp)
