POJOKSATU.ID - Pidato Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam bahasa Inggris di konferensi G20 Afrika Selatan.
Menarik sorotan tajam publik meski tampil percaya diri.
Banyak yang mempertanyakan substansi serta tujuan dari pernyataan yang disampaikan di panggung global.
Gibran hadir di KTT G20 Johannesburg mewakili Presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga: Bukan Hanya Naik, Perhitungan Gaji PNS Ternyata Sangat Rumit, Kemenkeu Beberkan Faktanya
Keputusan ini diambil karena jadwal Prabowo berbarengan dengan agenda penting di dalam negeri.
Ia kemudian menyampaikan pidato, yang menurut sejumlah laporan disampaikan dalam bahasa Inggris.
Namun, komentar publik menyentil pilihan Gibran.
Memakai bahasa Inggris dinilai sebagian orang sebagai strategi “show off” daripada menyampaikan pesan kuat.
Baca Juga: Forum RW Karawang Wetan Luncurkan Lapor Ka ERWE untuk Tampung Keluhan Warga
Kritikus menyebut bahwa pidato Gibran lebih fokus pada retorika umum seperti dorongan kerja sama global.
Serta pemulihan ekonomi ketimbang poin konkret terkait kebijakan.
Kontribusi nyata Indonesia di isu-isu krusial G20.
Menurut laporan dari media nasional, gibran dalam pidatonya menekankan dukungan Indonesia terhadap agenda ekonomi.
Pemerataan pembangunan, serta transisi energi adil.
Ia juga berjanji akan memperkuat kerja sama internasional melalui pertemuan bilateral.
Narasi tentang “isu global prioritas” yang disampaikan
Dalam pidato tersebut dinilai banyak pihak terlalu generik.
Baca Juga: 5 Penyebab TPG Bisa Molor hingga 29 Hari? Cek Apakah SKTP Kamu Termasuk yang Berisiko!
Analis politik bahkan menyoroti minimnya referensi teknis atau komitmen spesifik.
Misalnya dalam pengelolaan utang negara berkembang atau investasi hijau dua topik hangat di forum G20.
Seorang pengamat komunikasi publik menilai penugasan Gibran ke G20 bukan sekadar soal wakil.
Tetapi juga “menguji kemampuan diplomatisnya di panggung internasional.
Baca Juga: Mahasiswa STT Karawang Turun ke Plawad, Fokus PJU, Lingkungan, dan UMKM
Namun dia menambahkan, penggunaan bahasa Inggris seharusnya diiringi dengan substansi yang kuat.
Agar tak terkesan semata-mata sebagai diplomasi simbolis.
Warga net pun tak tinggal diam. Di media sosial.
Sebagian menyoroti gaya bicara Gibran yang terkadang terlalu “klise” dan menurut mereka kurang relevan.
Bagi sebagian publik, pidato dalam bahasa Inggris yang megah harus diimbangi dengan substansi nyata.
Agar langkah diplomasi Indonesia di G20 bisa benar-benar dirasakan manfaatnya bukan hanya sebagai ajang prestise.
Pidato Gibran di G20 Afrika Selatan memang menegaskan keterlibatan aktif Indonesia di panggung global.
Namun, kritik yang muncul menyentil bahwa kepercayaan diri dalam berpidato belum diimbangi oleh kedalaman isi.
Pilihan bahasa Inggris pun menjadi simbol ambivalen prestisius, tetapi dapat memicu pertanyaan soal relevansi.***




