POJOKSATU.ID - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama ini dikenal publik sebagai kebijakan besar pemerintah.

Untuk memastikan anak Indonesia mendapatkan asupan gizi sehat di sekolah.

Namun ada sisi lain dari program nasional ini yang mulai mencuri perhatian dunia yaitu minyak jelantah.

Sesuatu yang biasanya dianggap limbah, kini justru berubah menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi.

Baca Juga: KKS Merah Putih Akhirnya Aktif, KPM Peralihan Pos Mulai Terima SP2D dan Saldo Bansos Akhirnya Terisi

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa minyak jelantah yang berasal dari dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

MBG kini menjadi bahan baku bioavtur, bahan bakar ramah lingkungan yang digunakan maskapai dunia seperti Singapore Airlines.

Dadan menegaskan, Ini jelantahnya tidak dibuang, ditampung oleh para entrepreneur dan kemudian diekspor dengan harga dua kali lipat.

"Salah satu penggunanya adalah Singapore Airlines,” kata Dadan, Rabu 19 November 2025 di Kantor Bappenas.

Baca Juga: Cek Daerah Yang Sudah Pakai SIMATA, BKN Minta ASN Segera Adaptasi Sebelum Wajib 2026

Pernyataan itu membuka pintu baru: program gizi untuk anak ternyata memicu lahirnya industri energi hijau nasional.

Minyak jelantah biasanya berakhir di saluran air, mencemari lingkungan, atau dipakai kembali secara tidak aman oleh sebagian pengusaha kuliner.

Namun MBG menciptakan pola baru pengelolaan: minyak bekas dipilah, ditampung, dan diolah menjadi energi ramah lingkungan.

Dadan menyebutkan bahwa harga minyak jelantah khusus untuk bioavtur meningkat signifikan di pasar internasional.

Lonjakan harga itu terjadi karena permintaan maskapai internasional atas bahan bakar berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel / SAF) semakin tinggi.

Singapore Airlines, salah satu maskapai besar dunia, kini menggunakan 1% bioavtur untuk kebutuhan operasional mereka.

Persentase ini akan terus meningkat karena standar global penerbangan mulai mewajibkan penggunaan SAF dalam beberapa tahun ke depan.

Dengan demikian, minyak jelantah Indonesia yang selama ini tak dianggap justru menjadi incaran pasar global.

Baca Juga: TPG TW 3 Belum Cair! Apakah Sistem Pengelolaan Baru Justru Menambah Hambatan?

Potensi ekonomi ini bukan kecil. Dadan memaparkan bahwa setiap satu dapur SPPG menggunakan sekitar 800 liter minyak goreng per bulan.

Dari jumlah itu, sekitar 70% menjadi minyak jelantah. Artinya 560 liter minyak jelantah per dapur per bulan

Saat program MBG berjalan penuh, pemerintah menargetkan 30.000 dapur SPPG beroperasi di seluruh Indonesia.

Jika dihitung 560 liter × 30.000 dapur = 16.800.000 liter minyak jelantah per bulan.

Baca Juga: Politikus NasDem Sebut Rezim Jokowi Jahat, PSI Langsung Balik Serang

Angka yang sangat besar ini setara dengan 16.800 ton jelantah

Bahan bakar yang dapat menghasilkan ribuan ton bioavtur siap pakai

Dalam konteks energi terbarukan, Indonesia tiba-tiba memiliki “tambang emas baru” yang muncul dari dapur-dapur sekolah.

Program MBG bukan hanya menyediakan makanan bergizi bagi anak Indonesia. Angka terbaru yang disampaikan Dadan.

15.363 dapur SPPG telah terbangun, beroperasi di 38 provinsi, dan melayani 44,3 juta penerima manfaat, setara 53% pemenuhan hak gizi anak nasional.

Dengan jumlah sebesar itu, tentu volume sisa minyak pun melonjak. Pemerintah melihat peluang ekonomi dan keberlanjutan yang besar.

Mengolah limbah jadi energi, mengurangi emisi karbon, sekaligus memberi pemasukan baru bagi masyarakat.

Bioavtur dari jelantah memiliki jejak karbon jauh lebih rendah dibandingkan avtur berbahan fosil.

Dunia penerbangan global kini berlomba mengadopsinya untuk memenuhi target net zero 2050.

Baca Juga: SEEK Ungkap Indonesia Paling Banyak Jadi Target Loker Palsu, Ini Modus Lengkapnya

Indonesia kini masuk arena kompetisi global itu. Program MBG bukan hanya soal memberi makan bergizi kepada anak Indonesia. Tanpa disadari, ia melahirkan.

Industri energi hijau baru, peluang ekspor bernilai tinggi, tambahan pendapatan bagi masyarakat, kontribusi terhadap dekarbonisasi penerbangan global.

Dari sesuatu yang tadinya tidak memiliki nilai, minyak jelantah kini menjadi komoditas strategis.

Dan Indonesia memiliki peluang untuk menjadi pemain besar dalam pasar bioavtur dunia.***