POJOKSATU.id – Siapa sangka, minyak jelantah yang biasanya dianggap limbah tak berguna, kini justru jadi ladang cuan baru.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah ternyata bukan hanya soal memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.
Tapi juga membuka peluang ekonomi besar dari sisa penggorengan dapur mereka.
Baca Juga: KPK Sita Rumah hingga Mazda CX-3 dari Dugaan Korupsi Kuota Haji Rugikan Negara Rp1 Triliun
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa minyak jelantah hasil dapur MBG kini bisa dijual hingga Rp7.000 per liter.
Jumlahnya pun tak main-main Dalam satu bulan, setiap dapur MBG bisa menghasilkan sekitar 550 liter jelantah.
Angka itu bisa berlipat jika dikalikan ribuan dapur yang tersebar di seluruh Indonesia.
Baca Juga: Zootopia 2, Siap Hadirkan Sekuel Seru, Bawa Misi Misterius Judy dan Nick ke Marsh Market
"Daripada dibuang, minyak jelantah dari dapur MBG justru bisa dimanfaatkan kembali. Ini nilai ekonomi baru,”
ujar Dadan dalam keterangannya. Dikutip kompas.com
Dari Dapur ke Langit, Jelantah Jadi Bioavtur
Baca Juga: CRF1100L Africa Twin Terbaru Siap Jadi Teman Jelajah Tanpa Batas bagi Pecinta Big Bike Honda
Lebih mengejutkan lagi, minyak jelantah dari program MBG disebut sudah diekspor ke luar negeri dan diolah menjadi bahan bakar pesawat (bioavtur).
Salah satu maskapai yang memanfaatkannya adalah Singapore Airlines.
Ya, minyak bekas gorengan dari dapur rakyat Indonesia ternyata ikut membuat pesawat maskapai premium dunia bisa terbang lebih ramah lingkungan.
Menurut Dadan, ekspor jelantah ini memiliki nilai jual dua kali lipat lebih tinggi dibanding harga jual domestik.
Fakta ini sontak mengundang perhatian publik dari yang tak percaya hingga kagum bagaimana sesuatu yang dianggap limbah bisa menembus pasar global.
Baca Juga: CRF1100L Africa Twin Terbaru Siap Jadi Teman Jelajah Tanpa Batas bagi Pecinta Big Bike Honda
Potensi Raksasa dari Ribuan Dapur MBG
Program MBG kini memiliki lebih dari 15.000 dapur layanan gizi (SPPG) di 38 provinsi.
Jika masing-masing menghasilkan ratusan liter minyak bekas, potensi totalnya bisa mencapai jutaan liter setiap bulan.
Dengan harga jelantah yang stabil di kisaran Rp7.000 per liter, potensi ekonominya bisa mencapai puluhan miliar rupiah per bulan hanya dari limbah dapur.
Tak hanya itu, pemerintah berencana memperluas jumlah SPPG hingga 30 ribu dapur.
Artinya, “tambang emas cair” dari sisa penggorengan ini bakal makin besar.
Limbah yang Menjadi Sumber Cuan Baru
Kisah minyak jelantah MBG ini jadi bukti nyata bahwa limbah pun bisa bernilai.
Selain membantu lingkungan, pengelolaan jelantah secara terintegrasi juga bisa.
Menciptakan peluang usaha baru di tingkat lokal bdari pengumpulan, penyaringan, hingga ekspor.
Dengan tren global menuju energi bersih dan potensi besar yang dimiliki Indonesia.
Bukan tidak mungkin suatu hari nanti minyak jelantah dari dapur MBG jadi komoditas ekspor unggulan baru negeri ini.***




