POJOKSATU.ID - Pagi yang seharusnya tenang di sebuah toko daging beku di Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, tiba-tiba berubah menjadi mimpi buruk bagi sang pemilik.

Barang dagangan yang selama ini dipercayakan kepada karyawan ternyata raib dan pelakunya adalah sosok yang sebelumnya bekerja di sana.

Lokasi kejadian berada di Jalan Manggar Nomor 26 RT 03 RW 11, Koja. Berdasarkan polisi, pencurian berlangsung dalam rentang 4 hingga 11 November 2025.

Dalam rekaman CCTV, pelaku terlihat mengambil daging sapi beku dari freezer dan memasukkannya ke dalam karung. Kerugian ditaksir sekitar Rp50 juta.

Baca Juga: Maria Gabriella, Siswi SMA di Tangerang yang Hilang Sepekan, Ditemukan Selamat di Jakarta

“Kami sudah didatangi tim Reskrim, identitas pelaku sudah jelas. Pelapor akan membuat laporan resmi hari ini,” kata AKP Fernando, dikutip dari detik, Kamis 13 November 2025.

Sementara itu, Kapolsek Koja Kompol Andry Suharto menambahkan bahwa pelaku merupakan mantan karyawan toko tersebut dan saat ini menjadi buron.

“Sudah dilakukan penyelidikan, pelaku sedang dalam pencarian.”

Rasa kecewa pemilik toko bukan tanpa alasan, ia mengaku memperkerjakan karyawan tersebut karena dianggap andal dan bertanggung jawab.

Baca Juga: Latihan Soal Bahasa Sunda Kelas 7 Semester 1 Lengkap dengan Pembahasannya, Paguneman hingga Undak-unduk Basa

Namun, kecurigaan muncul setelah video pencurian viral di media sosial dan pemeriksaan CCTV menegaskan keterlibatan orang dalam.

“Yang kita pertaruhkan bukan hanya barang dagangan, tapi kepercayaan,” ujar pemilik toko.

Kasus ini memunculkan pertanyaan penting, bagaimana sistem pengawasan dan kepercayaan kerja diterapkan dalam usaha kecil?

Direktur sebuah Lembaga Perlindungan Usaha Mikro Indonesia menilai bahwa meski usaha berskala kecil, perlindungan terhadap aset dan internal control tidak boleh diabaikan.

“Penggunaan CCTV, audit rutin, dan pemisahan tugas ke pegawai sangat krusial meskipun omzet kecil,” katanya.

Dalam kasus toko daging ini, proses penelusuran telah berjalan.

Polisi melakukan olah TKP, memeriksa freezer, karung bekas, dan saksi-saksi yang melihat aktivitas pagi hari.

“Kami menganjurkan korban segera membuat laporan resmi supaya penyidikan bisa dilanjutkan,” ujar polisi Koja.

Baca Juga: Hitung Mundur Magang Nasional! H-1 Penutupan Batch 2 Kemnaker, Jangan Sampai Kuota UMK Sampai 80.000 Melayang!

Pemilik toko berharap agar pelaku segera ditangkap dan mendapat hukuman yang sepadan dengan perbuatannya.

Bukan semata untuk mengganti kerugian materi, tetapi juga sebagai bentuk keadilan agar peristiwa serupa tidak kembali terulang.

Kejadian ini menjadi peringatan penting bagi para pelaku usaha kecil dan menengah.

Terutama di sektor ritel, untuk memperkuat sistem keamanan internal dan pengelolaan karyawan.

Baca Juga: Presiden Prabowo Turun Tangan, Dua Guru Luwu Utara yang Dipecat Kini Dapat Keadilan

Dari kasus ini, ada beberapa pelajaran berharga yang bisa diambil.

Pertama, kontrak kerja harus dibuat secara tertulis dan mencantumkan klausul perlindungan aset.

Dengan begitu, pemilik usaha memiliki dasar hukum yang jelas ketika terjadi pelanggaran kepercayaan.

Kedua, sistem pengawasan digital seperti CCTV harus berfungsi optimal selama 24 jam.

Bukan hanya sebagai alat perekam, tetapi juga sebagai bentuk pencegahan dini terhadap potensi kecurangan.

Selain itu, penting bagi setiap pemilik usaha untuk menerapkan pembagian tugas yang terstruktur.

Agar tidak ada satu orang yang menguasai seluruh alur keuangan atau stok barang.

Hal ini bisa mengurangi risiko penyalahgunaan wewenang atau manipulasi data penjualan.

Evaluasi rutin terhadap karyawan juga menjadi langkah krusial, terutama terhadap mantan pegawai yang masih memiliki akses atau hubungan dengan operasional toko.

Baca Juga: Capek Nyenengin Semua Orang? Saatnya Belajar Cinta Diri Sendiri Dulu

Di era digital saat ini, setiap tindakan dapat dengan mudah terekam dan tersebar luas melalui media sosial.

Reputasi usaha bisa rusak hanya karena satu insiden yang viral, apalagi jika terkait kepercayaan pelanggan.

Karena itu, pemilik toko daging di Koja kini berharap agar kepercayaan publik bisa dipulihkan, tidak hanya dengan kata-kata.

Tetapi melalui langkah nyata memperkuat sistem keamanan dan membangun budaya kejujuran di tempat kerja.

Kejadian ini menjadi pengingat bahwa dalam dunia bisnis, kepercayaan adalah modal utama, sekali hilang, membangunnya kembali butuh waktu dan konsistensi.***