POJOKSATU.ID - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus dikebut pemerintah sebagai langkah nyata memperbaiki gizi anak-anak Indonesia.

Namun di balik semangat besar itu, masih ada pekerjaan rumah yang belum selesai.

Badan Gizi Nasional (BGN) menargetkan 25.400 dapur MBG bisa beroperasi di seluruh Indonesia hingga akhir tahun 2025.

Baca Juga: Banyak yang Menyambut Prabowo Subianto Kembali ke Tanah Air, Setelah Tuntaskan Kunjungan Kenegaraan ke Australia

Sayangnya, hingga pertengahan November ini, baru 14.863 dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang benar-benar aktif memasak dan menyalurkan makanan bergizi ke masyarakat.

Kepala BGN, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa target tersebut dibuat berdasarkan kebutuhan nasional agar setiap anak.

Terutama di sekolah dasar dan daerah 3T, bisa mendapat asupan makanan sehat setiap hari.

Namun, realisasi di lapangan tidak semudah menekan tombol.

Baca Juga: Mahasiswi Ekonomi Bisnis Unpak Jatuh Gegara Duduk di Pagar Gedung Lantai 3, Saksi Mata Sempat Kaget

Total target kita 25.400 dapur MBG, tapi baru sekitar 14.863 yang sudah beroperasi penuh, Masih ada lebih dari 10 ribu yang dalam proses persiapan dan validasi,” ujar Dadan saat rapat dengan Komisi IX DPR RI, Selasa (12/11/2025).

BGN mencatat bahwa ada 14.189 mitra pengelola dapur yang sudah mendaftar dalam program ini.

Jumlahnya bahkan melebihi kebutuhan, tapi sebagian masih menunggu verifikasi administratif, inspeksi dapur, dan pelatihan keamanan pangan.

Baca Juga: Satpol PP Gerebek Toko Kelontong di Pondok Aren, 5.413 Botol Minol Disita

Program MBG memiliki misi mulia: memastikan anak-anak sekolah, ibu hamil, dan kelompok rentan tidak kekurangan gizi.

Namun, di lapangan, perjalanan dari dapur ke piring ternyata tak selalu mudah.

Beberapa kendala yang ditemukan antara lain:

1. Keterbatasan fasilitas di wilayah 3T yang membuat proses distribusi bahan pangan lambat.

Baca Juga: 3 Karyawan Transjakarta Dilecehkan Atasan, Kejadian Sudah 6 Bulan Berjalan Tapi Belum Ada Tindakan

2. Kualitas SDM dapur yang masih perlu ditingkatkan, terutama dalam penerapan standar kebersihan dan nilai gizi.

3. Koordinasi lintas lembaga yang sering kali membutuhkan waktu, terutama untuk validasi data penerima manfaat.

BGN juga menekankan pentingnya bahan pangan lokal agar setiap dapur MBG bisa menyesuaikan dengan sumber daya daerahnya.

Baca Juga: Susul Haerin dan Hyein, Tiga Member NewJeans Lainnya Resmi Kembali ke ADOR, Akhiri Polemik Hukum dengan Agensi serta HYBE

Misalnya, di Jawa Tengah menggunakan telur dan tempe, sementara di Sulawesi fokus pada ikan laut dan sayur lokal.

Meski belum mencapai target maksimal, hasil dari program MBG sudah mulai terasa.

Hingga November 2025, BGN mencatat lebih dari 42 juta penerima manfaat, yang terdiri dari siswa sekolah dasar, ibu hamil, hingga warga di wilayah prioritas stunting.

Anak-anak kini bisa berangkat sekolah dengan perut kenyang dan semangat lebih tinggi.

Di banyak daerah, guru juga melaporkan bahwa tingkat kehadiran meningkat sejak program MBG dijalankan.

Baca Juga: Andra Soni Dorong PKK Banten Jadi Mesin Penggerak Kesejahteraan Warga

Meski banyak kemajuan, BGN mengakui bahwa percepatan program ini butuh kerja sama lintas kementerian dan dukungan daerah.

Setiap dapur MBG tak hanya harus berfungsi, tapi juga diawasi secara rutin agar kualitas makanannya aman dan bernutrisi.

Dadan menegaskan bahwa evaluasi dan pembinaan akan dilakukan secara berkala.

Baca Juga: Ngobras Kementan: Pemupukan Berimbang Kunci Bertani Cerdas, Hemat dan Ramah Lingkungan

Dengan anggaran mencapai Rp71 triliun dan fokus kuat pada perbaikan gizi, BGN berharap semua dapur MBG bisa aktif sebelum akhir tahun 2025.

Jika target tercapai, program ini akan menjadi salah satu proyek sosial terbesar dalam sejarah pembangunan manusia Indonesia.

Lebih dari sekadar dapur dan menu harian, MBG adalah cermin keseriusan negara dalam memerangi stunting dan ketimpangan gizi.

Ketika satu dapur beroperasi, ribuan anak bisa tersenyum lebih sehat.

Baca Juga: IWAPI dan GOW Karawang Kompak Sukseskan Peringatan Hari Kesehatan Nasional

Dan di balik setiap nasi, lauk, dan sayur yang disajikan, ada upaya panjang untuk memastikan bahwa generasi Indonesia tumbuh kuat, cerdas, dan siap bersaing di masa depan.

Masih ada 10 ribu dapur yang belum hidup, Tapi jika semua pihak bekerja bersama, target 25.400 bukan sekadar angka melainkan simbol harapan di atas meja makan anak-anak Indonesia.***