POJOKSATU.id, JAKARTA— Kasus teror ledakan bom yang dilakukan siswa SMAN 72 Kelapa Gading Jakarta Utara, Fadel Nazril, semakin terkuak.

Dengan belajar dari internet, Fadel merancang atau merakit bom daya ledak rendah berbahan potassium chlorida di rumahnya di Jalan Mahoni 1, Sukapura, Cilincing, Jakarta Utara.

Siswa yang dikenal pendiam ini merencanakan aksinya sudah 10 bulan atau sejak awal 2025 sudah melakukan pencarian-pencarian mengenai konten kekerasan di media sosial.

Juru Bicara Densus 88 Antiteror Mabes Polri, AKBP Mayndra Eka Wardhana, di Polda Metro Jaya, Selasa (11/11/2025) mengatakan, dari awal tahun 2025, pelaku FN sudah mulai melakukan pencarian-pencarian di internet.

Baca Juga: PPPK Paruh Waktu Tersendat, Anggaran Daerah dan Dinamika Politik Jadi Batu Sandungan

Perasaan FN merasa tertindas, kesepian, dan tidak tahu harus menyampaikan kepada siapa.

Lalu FN memiliki motivasi dendam terhadap beberapa perlakuan yang dialaminya.

Pelaku FN juga mencari tahu bagaimana cara orang meninggal dunia dan konten kekerasan lainnya.

Pelaku juga bergabung ke dalam grup kekerasan di media sosial.

"Di situ menginspirasi bersangkutan, karena yang bersangkutan mengikuti komunitas di media sosial di mana di situ mereka mengagumi kekerasan,” ujar AKBP Mayndra.

Baca Juga: Prabowo Minta Mensesneg Periksa Penyerapan Dana Transfer Daerah, Pastikan Tak Ada Anggaran Mengendap

Menurut Mayndra, hal yang memprihatinkan di grup kekerasan ini, tindakan kekerasan ini dianggap sebagai tindakan heroik.

“Motivasi yang lain ketika beberapa pelaku melakukan tindakan kekerasan lalu meng-upload ke media tersebut, komunitas itu akan mengapresiasi sesuatu hal yang heroik,” jelasnya.

“Di situ lah hal yang memprihatinkan," tegas AKBP Mayndra.

Bom Dirakit di Rumah

Sebanyak tujuh bom yang dibawa ke sekolah pelaku ternyata dirakit di rumahnya sendiri.

Bahan peledak di TKP atau di SMAN 72 Kelapa Gading, sama persis dengan yang ditemukan di rumah pelaku.

Kabid Balistik Metalurgi Forensik (Balmetfor) Mabes Polri Kombes Pol Ari Kurniawan Jati menyebut bahan peledak yang ditemukan di rumah pelaku memiliki daya ledak rendah.

Begitu juga bom yang ditemukan di TKP pertama dan kedua di SMAN 72 Jakarta bersifat low eksplossif atau berdaya ledak rendah. TKP pertama di masjid. Sementara TKP kedua di dekat tong sampah.


"Dari olah TKP yang kami laksanakan, baik di TKP 1, TKP 2, maupun rumah anak yang berkonflik dengan hukum, didapatkan hasil bahwa di TKP 1 terdapat residu bahan peledak dengan kekuatan rendah atau low explosive," ujarnya.

Sementara pada TKP 2 baik pada bom yang sudah dan belum meledak, juga memiliki kekuatan daya ledak rendah.

"Kemudian selanjutnya kita juga memeriksa di rumah ABH (Anak Berkonflik dengan Hukum), di sana kita juga mendapatkan bahan-bahan peledak yang memiliki kekuatan ledak yang rendah atau low explosive," katanya.

"Dengan kata lain bahwa bahan di TKP 1 di mesjid, atau di TKP 2 di samping bank sampah itu ada kesesuaian dengan bahan-bahan yang ada di rumah anak yang berkonflik dengan hukum," tegasnya lagi.***