POJOKSATU.ID – Isu rencana kenaikan tarif TransJakarta kembali jadi perbincangan hangat di Ibu Kota.

Warga Jakarta yang setiap hari mengandalkan transportasi publik ini kini menunggu kepastian apakah tarif Rp3.500 akan naik menjadi Rp5.000–Rp7.000 seperti yang disebutkan Gubernur DKI Jakarta.

Namun, Pramono menegaskan, kenaikan tarif belum tentu dilakukan dalam waktu dekat. Ia ingin keputusan diambil berdasarkan kajian menyeluruh, bukan sekadar hitung-hitungan fiskal.


Dalam beberapa kesempatan, Pramono menegaskan bahwa wacana penyesuaian tarif TransJakarta masih dalam tahap kajian internal.

Baca Juga: Tahun 2026, Status Honorer Dihapus, Semua Diubah Jadi PNS atau PPPK

Ia mengaku memahami kekhawatiran masyarakat, terutama pengguna harian yang sangat bergantung pada transportasi ini.

Saat ini, subsidi pemerintah terhadap operasional TransJakarta masih sangat besar.

Menurut data internal Pemprov DKI, tarif tanpa subsidi bisa mencapai Rp13.000 per perjalanan, sementara penumpang hanya membayar Rp3.500.

Baca Juga: Begini Cara Peserta PPG Prajabatan PILIH LOKASI TUK Sebelum TES SUBSTANSI 12–15 November 2025, Jangan Lupa UNDUH Lembar Bukti Registrasi di Sini

Kondisi inilah yang membuat pemerintah mempertimbangkan opsi kenaikan untuk menjaga keberlanjutan layanan publik.


Kenaikan tarif TransJakarta bukan semata kebijakan ekonomi, tapi juga bagian dari upaya menjaga kualitas layanan transportasi umum.

Pemprov DKI harus menyeimbangkan antara biaya operasional yang terus meningkat dan subsidi yang membebani anggaran daerah.

Rencana ini juga dikaitkan dengan kebijakan integrasi transportasi Jabodetabek, di mana tarif transportasi umum di wilayah sekitar Jakarta mulai disesuaikan agar lebih seimbang.

Baca Juga: Perkuat Sinergi Pemerintahan, Bupati Sukabumi Dorong Kolaborasi Lintas Tingkatan untuk Wujudkan Pembangunan Berkelanjutan

Meski ada wacana kenaikan, Pramono menegaskan pemerintah tidak akan mengabaikan kelompok masyarakat yang paling terdampak.

Setidaknya ada 15 kategori pengguna termasuk pelajar, lansia, dan penyandang disabilitas yang direncanakan tetap mendapat subsidi penuh atau tarif khusus.

Langkah ini dianggap sebagai bentuk keberpihakan sosial sekaligus menjaga misi utama TransJakarta sebagai transportasi publik yang inklusif.

Wacana kenaikan tarif ini menuai reaksi beragam dari masyarakat.

Baca Juga: Pemkab Sukabumi dan BPJS Ketenagakerjaan Perkuat Sinergi untuk Perlindungan Pekerja Informal

Sebagian menilai kenaikan wajar selama diimbangi peningkatan layanan, seperti armada yang lebih banyak, jadwal tepat waktu, dan fasilitas yang nyaman.

Namun ada juga yang menolak, dengan alasan kondisi ekonomi masyarakat masih belum pulih sepenuhnya.

Sementara itu, DPRD DKI Jakarta mengaku belum diajak berdiskusi resmi soal tarif baru ini.

Mereka menunggu hasil kajian Pemprov sebelum melakukan pembahasan lebih lanjut.


Bagi Pramono, waktu adalah faktor krusial, Ia tak ingin kebijakan ini justru memicu polemik atau menurunkan minat masyarakat menggunakan transportasi umum.

Baca Juga: Inovasi UMKM Indonesia! Dari Toko Pinggir Jalan ke Etalase Digital

Pemerintah menilai, kenaikan tarif bukan satu-satunya solusi.

Efisiensi operasional dan transparansi anggaran juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan TransJakarta tanpa membebani warga.

Sampai saat ini, belum ada keputusan final soal kapan atau berapa besar kenaikan tarif TransJakarta.

Namun satu hal yang pasti kebijakan ini akan mempertimbangkan banyak aspek dari kemampuan masyarakat, kualitas layanan, hingga keberlanjutan sistem transportasi publik Jakarta.

Bagi pengguna setia TransJakarta, yang bisa dilakukan sekarang adalah menunggu keputusan resmi sambil berharap agar kebijakan yang diambil tetap berpihak pada kepentingan publik.***