POJOKSATU.ID - Hujan deras yang mengguyur sebagian besar wilayah Indonesia sejak awal November 2025 bukan sekadar fenomena musiman.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat intensitas curah hujan di atas normal yang memicu banjir dan longsor di sejumlah daerah, mulai dari Brebes, Blitar, hingga Cilegon.
Para ahli menyebut kondisi ini berkaitan dengan perubahan pola cuaca akibat pemanasan global dan kerusakan lingkungan yang semakin parah.
Curah Hujan Ekstrem di Atas Normal
Kepala BMKG, Dwikorita Wati, menjelaskan bahwa curah hujan di sebagian besar wilayah Jawa dan Sumatera pada pekan pertama November mencapai 150–200 milimeter per hari.
fenomena ini bukan hanya akibat La Nina, melainkan juga perubahan pola angin dan suhu permukaan laut di Samudra Hindia yang lebih hangat dari biasanya.
BMKG telah mengeluarkan peringatan dini untuk lebih dari 15 provinsi, termasuk Jawa Tengah, Banten, Jawa Timur, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Selatan.
Daerah-daerah dengan topografi curam dan lahan gundul disebut paling rawan longsor.
Dampak Nyata di Lapangan
Hujan ekstrem ini memicu longsor di Kabupaten Blitar, menutup akses jalan penghubung antar-kecamatan selama lebih dari 12 jam.
Baca Juga: Panduan Klaim Bantuan Sosial 2025, Cara Cepat dan Aman Lewat Aplikasi Resmi Cek Bansos dari Kemensos
Di Brebes, air bah datang mendadak setelah hujan deras selama dua jam, merendam ribuan rumah warga.
Sementara di Cilegon, banjir melumpuhkan kawasan industri dan perkantoran.
sawah di desa kini berubah menjadi genangan lumpur karena sistem drainase rusak dan banyak lahan yang berubah fungsi menjadi area perumahan.
Baca Juga: Terjebak Lowongan Kerja Bodong? Ini Cara Melaporkannya ke Kemnaker Secara Resmi
Kondisi ini memperlihatkan bahwa bencana hidrometeorologi di Indonesia tak lagi bisa dianggap musiman.
Pola cuaca yang tidak menentu membuat musim hujan datang lebih cepat dan lebih intens, sementara kesiapan daerah belum sepenuhnya memadai.
Pakar Ingatkan Bahaya Degradasi Lingkungan
Ahli iklim dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Eko Nugroho, menyebut bahwa meningkatnya frekuensi banjir dan longsor adalah tanda nyata kerusakan lingkungan.
Baca Juga: BNPB Kerahkan Personel, Pemerintah Fokus pada Evakuasi dan Bantuan Cepat
perlu adanya kebijakan ketat terhadap pembangunan di daerah perbukitan dan kawasan sempadan sungai.
pentingnya rehabilitasi hutan dan pembuatan sistem drainase berbasis alam, seperti sumur resapan dan taman penyerapan air di kawasan perkotaan.
Langkah BMKG dan Pemerintah Daerah
BMKG bekerja sama dengan BNPB dan BPBD untuk memperkuat sistem peringatan dini bencana.
Baca Juga: Alih Teknologi Mahal, Apa Keuntungannya untuk Industri Dalam Negeri?
Informasi curah hujan ekstrem kini dikirim langsung ke pemerintah daerah melalui platform digital yang terintegrasi.
Beberapa pemerintah daerah juga mulai bergerak, Di Jawa Tengah, BPBD menyiagakan 250 personel dan 20 alat berat di titik rawan longsor.
Sementara Pemkot Cilegon menambah kapasitas pompa air di wilayah industri agar genangan tidak meluas.
Masyarakat Diminta Siaga
BMKG mengimbau masyarakat agar tidak beraktivitas di sekitar tebing atau sungai saat hujan deras berlangsung.
Baca Juga: Cek Nama Penerima Bantuan Sembako Akhir Tahun 2025, Cair Hingga Rp 600 Ribu!
Warga juga diingatkan untuk menjaga kebersihan saluran air dan tidak menutup drainase dengan bangunan permanen.
Bencana banjir dan longsor kali ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan isu global yang jauh.
Tetapi kenyataan yang kini dirasakan langsung oleh masyarakat Indonesia.***




