POJOKSATU.ID - Pagi yang biasanya tenang di Kota Bima kini dipenuhi suara ember dan sekop.
Aroma lumpur basah masih tercium di udara, tapi yang terlihat bukan kesedihan melainkan semangat.
Warga dari berbagai kelurahan turun ke jalan, membersihkan sisa lumpur yang menumpuk setelah banjir besar yang melanda kota pada akhir pekan lalu.
Gotong Royong dari Pagi Buta
Sejak matahari belum tinggi, warga Kelurahan Melayu, Pane, dan Sarae sudah mulai bekerja. Mereka memegang sapu, cangkul, dan selang air seadanya.
Di sisi lain, petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Damkar Kota Bima juga terlihat turun langsung.
Mereka menyedot air yang masih menggenang di beberapa titik dan mengangkut tumpukan lumpur ke truk pengangkut sampah.
Kolaborasi antara warga dan aparat inilah yang membuat suasana pemulihan terasa cepat dan hangat.
Banjir Datang, Harapan Tidak Surut
Banjir yang terjadi pada Sabtu (8 November 2025) malam disebabkan hujan deras selama hampir tiga jam.
Baca Juga: Prediksi Pencairan TPG TW 3 Gelombang Terakhir, Cair November atau Sekaligus Dirapel TW 4?
Air dari pegunungan di sisi barat Bima meluap ke permukiman. Sejumlah ruas jalan utama, termasuk Jalan Soekarno-Hatta, tertutup lumpur setebal 20 sentimeter.
Meski sempat memutus akses lalu lintas, pada Minggu (9 November) pagi warga mulai bergerak tanpa menunggu perintah.
Sinergi Pemerintah dan Warga
Kepala DLH Kota Bima, M. Yusuf, menyebutkan bahwa pembersihan dilakukan di tujuh titik utama yang terdampak paling parah.
Selain DLH, Dinas Pemadam Kebakaran dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga dilibatkan.
Mereka memastikan saluran drainase kembali terbuka agar air tidak menggenang lagi jika hujan turun.
Baca Juga: Waspada 3 Kode TMS 01, 02, 13 di Info GTK, Penyebab Utama TPG TW 3 Belum Cair
Selain jalan dan rumah, fasilitas umum seperti sekolah dan masjid juga dibersihkan bersama-sama.
Anak-anak membantu dengan mengeringkan meja belajar, sementara orang tua mengangkut lumpur dari halaman.
Aktivitas gotong royong ini tidak hanya membersihkan kota, tapi juga menumbuhkan rasa kebersamaan yang semakin kuat.
Pelajaran dari Bencana
BMKG telah memperingatkan potensi hujan intensitas tinggi hingga pertengahan November.
Baca Juga: Kukar Tunda Pembayaran TPP PPPK, Fokus Pulihkan Stabilitas Keuangan Daerah
Pemerintah Kota Bima berencana memperdalam saluran drainase dan menambah titik resapan air di kawasan padat.
Sementara itu, warga mulai menyiapkan langkah antisipasi sederhana meninggikan barang, membuat tanggul mini, dan menyiapkan cadangan makanan kering.
Semangat ini menjadi pesan penting bagi banyak daerah lain di Indonesia: ketika bencana datang, kebersamaan adalah kekuatan utama untuk bertahan.
Baca Juga: Jumlah PPPK Kini Lampaui 50 Persen ASN, BKN 'Belum Termasuk Tenaga Paruh Waktu'
Banjir boleh datang silih berganti, tapi semangat warga Bima tak ikut hanyut.
Di antara lumpur dan genangan, mereka menemukan harapan baru harapan bahwa bersama-sama, kota mereka akan selalu bisa bangkit.***




