POJOKSATU.ID - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Republik Indonesia, H. Agus Harimurti Yudhoyono, M.Sc., M.P.A., M.A., Dr. (c)., mengatakan, arah kebijakan pembangunan infrastruktur nasional sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Dalam sambutannya, AHY menekankan bahwa pembangunan infrastruktur di Indonesia kini tidak lagi semata berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi menjadi katalis bagi ketahanan, inklusivitas, dan kemakmuran jangka panjang bangsa.
"Melalui visi Asta Cita, Presiden Prabowo menegaskan bahwa setiap pembangunan harus menghadirkan manfaat nyata bagi rakyat, menjaga kelestarian lingkungan, dan memperkuat kemandirian bangsa," ujarnya AHY.
Baca Juga: Alternatif Pemidanaan: Jabar Terapkan Hukuman Sosial bagi Pelaku Kasus Ringan
Visi Asta Cita mencakup delapan misi utama, antara lain pengokohan ideologi Pancasila dan sistem demokrasi, kemandirian melalui swasembada pangan, energi, dan air; penciptaan lapangan kerja.
Penguatan sumber daya manusia berbasis sains dan teknologi, hilirisasi industri, pembangunan dari desa, reformasi birokrasi, serta pembangunan yang ramah lingkungan dan berbudaya.
Sejalan dengan itu, pemerintah menegaskan komitmennya pada pembangunan infrastruktur berkelanjutan di berbagai sektor strategis, mulai dari ketahanan pangan dan air, energi bersih, konektivitas nasional, hingga penguatan riset dan pendidikan tinggi.
Baca Juga: Banyak Kesamaan Barang Bukti TKP SMAN 72 Jakarta dengan Rumah Pelaku FN di Cilincing
Dalam paparannya, AHY menyebutkan bahwa pemerintah memperkuat jaringan pendidikan dan riset pertanian untuk mendukung lebih dari 2,5 juta hektare lahan sawah produktif serta membangun 15 bendungan serbaguna untuk menjamin ketersediaan air nasional.
Targetnya, pada 2045 seluruh kota di Indonesia memiliki akses air bersih yang berkelanjutan.
Di sektor energi, transisi menuju energi bersih dan aman terus didorong melalui pengembangan tenaga surya, panas bumi, dan waste-to-energy.
Hingga Agustus 2025, lebih dari 120 ribu kendaraan listrik telah beredar di Indonesia, menandai kemajuan nyata menuju emisi nol bersih (net zero emission) pada 2060.
Konektivitas menjadi tulang punggung inklusivitas pembangunan. Pemerintah melanjutkan restrukturisasi Kereta Cepat Jakarta–Bandung serta mempersiapkan perpanjangan jalur ke Surabaya.
Di sisi lain, kota-kota besar terus memperluas jaringan kereta listrik perkotaan yang ramah lingkungan.
Pemerintah juga memperkuat sistem pengendalian banjir di kawasan utara Jawa dan membangun Giant Sea Wall sebagai upaya adaptasi terhadap perubahan iklim.
Baca Juga: Laga Pamungkas Putaran I: Ogah Disalip, PSMS Medan Siap Curi Poin di Markas FC Bekasi City
"Lebih dari 200 ribu unit rumah rakyat telah menerima fasilitas pembiayaan perumahan, dan 165 rumah susun sekolah dibangun bagi pelajar kurang mampu," tutupnya.***



