POJOKSATU.ID - Suasana tegang mewarnai penggerebekan besar yang dilakukan aparat gabungan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Polri di Kampung Bahari.
Operasi yang menargetkan jaringan besar pengedar sabu ini sempat diwarnai perlawanan dari kelompok warga yang diduga menjadi pengaman jaringan narkoba.
Menurut keterangan BNN, petugas sempat menghadapi aksi penghadangan di salah satu gang sempit saat mencoba menyita barang bukti.
Baca Juga: BKN Gelar Sidang ASN! Peringatkan Soal Tukin, Tak Disiplin Potong 25 Persen!
Batu dan botol dilempar dari atap rumah, membuat aparat harus mengeluarkan tembakan peringatan agar situasi terkendali.
Operasi Gabungan Skala Besar
Operasi ini merupakan bagian dari program nasional Bersih Narkoba 2025 yang menargetkan sepuluh wilayah rawan narkotika di Indonesia.
Kampung Bahari, yang selama ini dikenal sebagai zona merah peredaran narkoba, menjadi salah satu titik utama.
Baca Juga: Kemendikdasmen Imbau Sekolah Gelar Upacara Hari Pahlawan 2025 Serentak 10 November
Deputi Pemberantasan BNN, Irjen Pol Arman Depari, menjelaskan bahwa penggerebekan dilakukan setelah dua bulan penyelidikan terhadap jaringan yang dikendalikan dari luar negeri.
Petugas akhirnya berhasil mengamankan lebih dari 10 tersangka yang diduga terlibat dalam jaringan distribusi narkotika tersebut.
Beberapa di antaranya diamankan di rumah kontrakan, sementara lainnya mencoba melarikan diri melalui jalur air di tepi pelabuhan kecil Kampung Bahari.
Warga Panik, Aparat Tetap Siaga
Penggerebekan besar ini sempat membuat warga panik. Suara tembakan peringatan terdengar beberapa kali dari arah gang sempit.
Baca Juga: Budianto Dukung Pesta Laut Ciparagejaya dan Dorong Pemerintah Perbaiki Akses Wisata
Sebagian warga, terutama anak-anak dan perempuan, segera mengungsi ke rumah kerabat di luar kawasan.
Meski sempat terjadi ketegangan, situasi berhasil dikendalikan setelah aparat menguasai beberapa titik utama yang diduga menjadi tempat penyimpanan sabu.
Petugas juga menemukan beberapa ruang rahasia di dalam rumah, yang disamarkan menjadi dapur dan kamar mandi diduga digunakan untuk menyembunyikan paket sabu siap edar.
Kampung Bahari, Zona Merah yang Tak Pernah Tenang
Kampung Bahari memang bukan kawasan baru bagi aparat penegak hukum.
Baca Juga: Beda Nasib dengan PNS, Begini Mekanisme Mutasi PPPK yang Kini Lebih Ketat
Dalam dua dekade terakhir, daerah ini sudah berkali-kali digerebek karena diduga menjadi pusat peredaran narkoba di Jakarta Utara.
Namun, setiap kali aparat berhasil menindak satu jaringan, selalu muncul kelompok baru yang menggantikannya.
Menurut pengamat sosial perkotaan, Dr. Eko Prasetyo, masalah Kampung Bahari bukan hanya soal narkoba, tetapi juga soal sosial dan ekonomi.
Upaya Pemerintah dan Warga
Pasca penggerebekan, BNN bekerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta berencana memperkuat program Kampung Bersinar (Bersih Narkoba) dengan pendekatan kemasyarakatan.
Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan Kebut Transformasi Sistem Pensiun Nasional, Siap Adaptasi Era Gig Worker!
Program ini melibatkan tokoh masyarakat, karang taruna, dan lembaga pendidikan untuk memberikan edukasi bahaya narkoba dan membangun ekonomi alternatif.
Beberapa warga juga berharap operasi kali ini menjadi awal perubahan.
Antara Tegas dan Manusiawi
Perlawanan terhadap aparat di Kampung Bahari menunjukkan betapa kuatnya cengkeraman jaringan narkoba di kawasan urban padat.
Namun penggerebekan demi penggerebekan juga memperlihatkan satu hal lain bahwa perang melawan narkoba tidak bisa dimenangkan hanya dengan kekerasan.
Baca Juga: Rp 1 Miliar Dana Gizi Hilang, Pengawasan Anggaran di Daerah Dipertanyakan
Perlu pendekatan sosial, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi agar masyarakat tidak lagi menjadi tameng bagi pelaku kejahatan.
Operasi kali ini mungkin berhasil menyita puluhan kilogram sabu, tapi tantangan sesungguhnya adalah menyembuhkan luka sosial yang sudah lama melekat di Kampung Bahari.***




