POJOKSATU.ID - Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan langkah besar untuk memperkuat industri pengolahan hasil pertanian.

Setelah bertahun-tahun mengandalkan ekspor bahan mentah, kini fokus bergeser ke hilirisasi.

Menteri Pertanian mengungkapkan, sedikitnya 100 pabrik pengolahan pertanian baru akan dibangun di berbagai daerah dalam lima tahun ke depan.

Langkah ini merupakan bagian dari investasi senilai US$22 miliar atau sekitar Rp371 triliun.

Baca Juga: Tetap Tenang di Tengah Drama? Berikut Cara Buat Kamu Manjaga Energi Emosional di Tengah Media Sosial

Yang disebut sebagai proyek strategis nasional untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan nilai tambah ekspor.

Andi Amran mengatakan, kita tidak bisa terus mengekspor bahan mentah, nilai tambah ada di proses pengolahan.

"dan di situlah kesejahteraan petani ditentukan,” katanya dikutip dari Reuters, Jumat 7 November 2025.

Dalam rencana tersebut, pemerintah akan menggandeng investor dari Asia dan Timur Tengah.

Baca Juga: RS Islam Jakarta Cempaka Putih Buka Lowongan Supervisor dan Manajer, Cek Syarat Lengkapnya!

Sebagian besar pabrik akan dibangun di sentra produksi utama seperti Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Jawa Timur, dan Sumatera Utara.

Fokus utama diarahkan pada komoditas strategis seperti kelapa, kopi, kakao, dan beras.

Pabrik-pabrik ini tidak hanya memproduksi bahan setengah jadi, tetapi juga produk konsumsi siap ekspor.

Seperti minyak kelapa murni, kopi bubuk premium, hingga produk pangan olahan berbasis lokal.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menegaskan, hilirisasi pertanian merupakan kelanjutan dari strategi besar pemerintah dalam memperkuat sektor non-migas.

Dengan investasi sebesar itu, diharapkan sektor pertanian dapat menyumbang pertumbuhan ekonomi hingga 1,5 persen tambahan terhadap PDB nasional mulai 2026.

Pemerintah juga menyiapkan skema pendampingan agar petani tidak tertinggal dalam arus industrialisasi pertanian.

Menurut data Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian.

Baca Juga: GoTo dan Grab, Duet Superapp? Ini Dampak Besarnya bagi Konsumen dan UMKM Indonesia

Lebih dari 1,2 juta petani akan dilibatkan dalam rantai pasok pabrik-pabrik baru tersebut.

Selain bantuan peralatan pascapanen, petani akan dibekali pelatihan teknologi pengolahan sederhana dan manajemen hasil produksi.

Beberapa daerah bahkan sudah mulai menjalankan proyek percontohan berbasis koperasi modern.

Di Kabupaten Enrekang, misalnya, koperasi petani kopi kini tengah menyiapkan lini produksi roasting kecil-menengah bekerja sama dengan investor asal Jepang.

Baca Juga: KDM Dukung Optimalisasi Jalur KRL Nambo–Citayam, Target Tambah 200 Ribu Penumpang per Hari

Produk kopi lokal rencananya akan diekspor langsung ke Tokyo mulai pertengahan 2026.

Selama ini, Indonesia masih mengimpor sejumlah produk pertanian olahan seperti minyak nabati, pakan ternak, dan tepung berbasis biji-bijian.

Dengan berdirinya ratusan pabrik baru, pemerintah optimistis dapat mengurangi impor hingga 25 persen dalam tiga tahun ke depan.

Sementara dari sisi ekspor, targetnya jelas, memperbesar volume ekspor produk olahan agar nilai ekspor sektor pertanian naik dua kali lipat dibanding 2024.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, nilai ekspor produk pertanian Indonesia pada 2024 mencapai US$35,4 miliar.

Dengan adanya hilirisasi besar-besaran, angka ini diproyeksikan bisa menembus US$60 miliar pada 2028.

Kementerian Pertanian menargetkan sebagian besar pabrik baru akan menggunakan teknologi ramah lingkungan, termasuk pengelolaan limbah organik dan efisiensi energi.

Pemerintah juga akan menerapkan standar green industry certification agar produk pertanian Indonesia dapat bersaing di pasar global yang semakin ketat terhadap isu keberlanjutan.

Dengan arah kebijakan ini, Indonesia berharap mampu bertransformasi dari eksportir bahan mentah menjadi pusat produksi pertanian olahan Asia Tenggara.***