POJOKSATU.ID - Setelah berminggu-minggu bungkam.
Ahmad Sahroni akhirnya muncul ke publik dengan cerita yang membuat banyak orang terdiam.
Ia menceritakan detik-detik menegangkan saat rumahnya dijarah massa dan bagaimana kini ia memilih untuk bersyukur, bukan menyimpan dendam.
Baca Juga: Kisah Haru Merlin Siswa SRMA 29 Jayapura, dari Buta Aksara Menuju Harapan
“Saya naik ke plafon, jatuh, lalu sembunyi di kamar mandi. Tujuh jam saya di dalam sana. Kalau waktu itu saya meninggal, gak apa-apa,”
ujar Sahroni dalam penampilan perdananya di depan warga Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Dari Ketakutan ke Syukur
Baca Juga: 7 Tips Biar Nongkrong di Cafe Viral Bogor Tetap Hemat, Stylish dan Nggak Kalah Aesthetic!
Dalam pengakuannya, Sahroni tak hanya bicara soal harta benda yang hilang.
Ia justru menyoroti betapa dekatnya ia dengan maut malam itu.
“Semua habis dijarah, sampai kolor saya aja diambil. Tapi saya pikir, saya masih dikasih hidup. Itu sudah lebih dari cukup,” tuturnya.
Baca Juga: HINDARI! 7 Kebiasaan yang Bikin Kamu Keriput Sebelum Waktunya
Sahroni mengaku, momen itu jadi titik balik dalam hidupnya.
Ia menggelar acara syukuran sederhana bersama warga sekitar sebagai bentuk rasa terima kasih karena masih bisa bertahan.
“Saya bersyukur masih bisa hidup. Makanya saya bikin syukuran bareng warga".
"Saya gak mau marah, gak mau balas. Hidup ini bukan cuma soal harta,” katanya di hadapan warga yang hadir.
Suasana Syukuran yang Hangat
Dalam acara yang digelar di halaman rumahnya yang kini sudah diperbaiki sebagian, suasana terlihat cair.
Warga sekitar tampak hadir dan ikut mendoakan.
Baca Juga: HINDARI! 7 Kebiasaan yang Bikin Kamu Keriput Sebelum Waktunya
Sahroni tampak santai, mengenakan batik cokelat, sesekali bercanda dengan tetangga yang dulu ikut menyelamatkan keluarganya.
Publik Masih Terbelah
Namun tak bisa dipungkiri, kisah Sahroni tetap menuai reaksi beragam di media sosial.
Baca Juga: Judul Penelitian Ditolak? Jangan Panik! 6 Tips untuk Membuat Judul yang Lebih Baik
Ada yang mengapresiasi kejujurannya, tapi tak sedikit pula yang menilai ini sebagai narasi simpati di tengah sorotan publik terhadap elite politik.
“Saya gak cari simpati. Saya cuma cerita apa yang saya alami,” tegas Sahroni menanggapi komentar miring netizen.
“Saya tidak korupsi, tapi semua orang membenci saya. Sekarang saya cuma ingin hidup tenang dan berguna.”
Baca Juga: Memanah Prestasi Gemilang, Mahasiswa UB Raih Emas dan Perak POMNas 2025 Cabang Panahan
Bangkit dari Krisis
Meski dihujat dan kehilangan banyak hal, Sahroni kini mencoba bangkit dengan semangat baru.
Ia menyebut insiden penjarahan sebagai “cara Tuhan” untuk mengingatkannya agar lebih dekat dengan masyarakat.
“Saya belajar banyak. Kadang Tuhan ambil semua supaya kita sadar, kalau yang paling penting itu bukan harta, tapi hati,” ungkapnya.
Baca Juga: Dari Harapan Jadi Cemas, Calon PNS Galau Hadapi Penundaan Rekrutmen
Beberapa pengamat menilai langkah Sahroni menggelar syukuran dan tampil di depan publik.
Adalah strategi rekonsiliasi yang cerdas mengubah krisis pribadi menjadi momentum empati.
Di tengah publik yang mudah menilai, kisah Sahroni adalah pengingat sederhana bahwa bahkan pejabat pun bisa takut, bisa jatuh, dan bisa bangkit lagi dengan cara yang lebih manusiawi.***


.webp)

