POJOKSATU.id, SIDOARJO-- Alfatih Cakra Buana (14) santri Ponpes Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, yang selamat dari reruntuhan ponpes menceritakan firasat yang dialaminya beberapa hari sebelum kejadian.
Alfatih Buana telah meminta agar dirinya jangan pulang dulu ke pondok. Dia meminta agar pulangnya Rabu (1/10) saja. Namun ayahnya Abdul Hanan, memaksa mengantarkan putranya itu pada Sabtu (27/9/2025).
Kejadian nahas pun terjadi pada Senin (29/9) atau dua hari setelah dia berada kembali di Ponpes Al Khoziny.
Usai kejadian ambruknya musala ponpes saat salat Ashar pada Senin sore, kondisi Alfatih sehat, tanpa luka serius dan hanya luka lecet.
Baca Juga: Jawaban Ngambang Bupati Pamekasan, Warga Geram Tanah dan Pohonnya Diserobot Proyek PUPR
Pada pekan lalu, Alfatih sempat pulang ke rumah mereka di Madura. Ia minta supaya baru dikembalikan ke pondok pada Rabu (1/10/2025) saja, namun Abdul Hanan ayahnya memaksa mengantarkan putranya itu pada Sabtu (27/9/2025).
Abdul Hanan sempat menyesali keputusannya itu karena membuat Alfatih jadi salah satu korban ambruknya musala ponpes tersebut pada Senin (29/9/2025).
“Sebelum kejadian dia sempat mimpi juga lihat gedung runtuh,” kata Abdul Hanan saat mendampingi putranya di ruang rawat RSUD RT Notopuro Sidoarjo, Kamis (2/10/2025).
Mimpi Minum Air
Pada hari nahas itu, Alfatih mengaku sebelum salat ashar, ia sudah menunggu Azan di musala, tapi akhirnya ketiduran.
Baca Juga: Kesaksian 2 Santri Selamat Ambruknya Mushala Ponpes Al Khoziny, Orang Salat Pekerja Malah Ngecor
Sempat terbangun karena gemuruh gedung ambruk, dia kemudian lari berusaha menyelamatkan diri, tapi kemudian pingsan.
“Iya (lari), tapi terus ketimpa. Iya. Enggak sakit sama sekali,” katanya.
Ia sempat sadar saat berada di bawah reruntuhan bangunan musala yang ambruk itu, tapi kondisinya sudah gelap.
Alfatih mengatakan kalau dirinya hanya sempat berkomunikasi dengan teman di sebelahnya yang sama-sama terjebak, sebelum akhirnya tak sadar lagi.
Aktivitas petugas penyelamat yang mencongkel bagian bawah lantai kemudian membangunkan tidur panjangnya.
“Aku tanya apa sudah bisa keluar. Keluarnya itu kayak merangkak, sedikit-sedikit,” ungkapnya.
Tubuhnya terlindungi gundukan pasir, dan wajahnya terlindungi oleh seng yang menutup bagian kepalanya.
Selama tidur panjang hampir tiga hari sebelum sadar karena dievakuasi, ia mengaku mimpi jalan-jalan berkeliling di jalan gelap tanpa lampu dengan naik mobil pikap.
Ia juga mimpi minum air yang disalurkan lewat selang. “Mimpi tapi kayak asli minumnya rasanya,” ungkapnya.
Mendengar cerita putranya, Abdul Hanan tak henti mengucap syukur. Ia merasa seperti diberi keajaiban Allah, karena doa yang dipanjatkan tanpa putus. ***




