POJOKSATU.id — Kasus paparan radioaktif Cesium-137 (Cs-137) di Cikande, Banten, belakangan ini menjadi sorotan publik.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengonfirmasi ada sembilan orang yang terdeteksi positif paparan radiasi berdasarkan pemeriksaan whole-body counter (WBC).

Cesium-137 sendiri merupakan isotop radioaktif hasil fisi nuklir, yakni pecahan uranium atau plutonium yang biasanya ditemukan pada reaktor nuklir maupun ledakan nuklir.

Meski berbentuk logam, unsur ini lebih sering hadir dalam bentuk garam yang mudah larut di air sehingga dapat mencemari lingkungan.

Dari sisi kesehatan, dampaknya bergantung pada dosis dan lamanya paparan.

Baca Juga: Begini Tiga Cara Daftar Cek Kesehatan Gratis, Simak Jadwal dan Lokasi di Bogor

Paparan radiasi rendah dalam jangka panjang bisa meningkatkan risiko kanker.

Sementara itu, paparan sedang hingga tinggi dapat menyebabkan kerusakan serius pada sumsum tulang, sistem kekebalan tubuh, kulit, hingga organ vital.

Bila Cs-137 masuk melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi, zat ini akan menumpuk di jaringan lunak dan otot, lalu terus memancarkan radiasi dari dalam tubuh.

Tidak hanya berbahaya bagi manusia, Cs-137 juga menimbulkan risiko jangka panjang bagi lingkungan.

Unsur ini memiliki waktu paruh sekitar 30 tahun. Artinya, butuh tiga dekade bagi separuh jumlahnya meluruh menjadi isotop lain, yakni Barium-137m.

Hal itu membuat kontaminasi di tanah maupun air sangat sulit hilang secara alami.

Baca Juga: Kawasaki W175L Injeksi Bakal Diproduksi Lokal, Harga Bisa Lebih Ramah?

Sejarah mencatat, dua insiden besar yakni Chernobyl pada 1986 dan Fukushima pada 2011 memperlihatkan bagaimana Cs-137 menjadi salah satu kontaminan utama.

Dampaknya, wilayah terdampak masih berbahaya untuk ditinggali bahkan puluhan tahun setelah peristiwa terjadi.

Kasus di Cikande kini menambah panjang daftar kekhawatiran publik terkait bahaya paparan radiasi.

Pemerintah diminta memperkuat langkah mitigasi agar dampak kesehatan dan lingkungan bisa ditekan semaksimal mungkin.***