POJOKSATU.id — Proses pencarian korban yang masih tertimbun reruntuhan bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, kini mulai melibatkan alat berat.
Langkah tersebut diambil setelah tim gabungan tidak lagi menemukan tanda-tanda adanya korban yang masih hidup.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Pratikno, menegaskan keputusan ini bukan tanpa pertimbangan.
Baca Juga: Suku Baduy, Wisata Budaya yang Tetap Lestari di Tengah Modernisasi
Menurutnya, pihak pemerintah dan tim penyelamat lebih dulu berdialog dengan keluarga para santri sebelum memutuskan penggunaan alat berat.
"Ini tadi barusan kita dipimpin oleh Pak Kepala BNPB berdialog lagi, karena setiap hari terus dilakukan komunikasi dengan keluarga para santri apakah sudah saatnya untuk dilakukan mulai evakuasi dengan menggunakan bantuan alat-alat berat," ujar Pratikno.
Saat itu, meski masa golden time atau 72 jam penyelamatan belum sepenuhnya lewat, keluarga korban telah memberikan persetujuan.
Baca Juga: Wisata Religi Paling Hits di Serang, Masjid Agung dan Menara Banten Lama Jadi Magnet Peziarah
Kesepakatan itu pun dituangkan dalam dokumen resmi yang ditandatangani langsung pihak keluarga.
Sebelumnya, Badan SAR Nasional (Basarnas) menekankan bahwa penggunaan alat berat tidak bisa sembarangan karena berisiko memperparah kondisi reruntuhan.
Kepala Sub Direktorat Pengarahan dan Pengendalian Operasi Bencana Basarnas, Emi Freezer, menjelaskan saat crane berkapasitas 30 ton coba dioperasikan di sektor A1, struktur bangunan lain justru ikut terdampak karena posisinya menyatu dengan gedung di bagian depan.
Baca Juga: Dandim Karawang Ingatkan Prajurit untuk Bertugas dengan Tanggung Jawab
Ia juga memaparkan, lokasi reruntuhan dibagi dalam tiga sektor, yakni A1 di bagian depan, A2 di area belakang, dan A3 di atas bangunan. Dari ketiga sektor itu, sebanyak 11 korban telah berhasil dievakuasi.
Runtuhnya bangunan diduga kuat akibat kegagalan konstruksi. Oleh karena itu, proses evakuasi harus tetap dijalankan dengan sangat hati-hati.
Baca Juga: Sosok Hacker Bjorka yang Fenomenal Ternyata Tak Lulus SMK, Usia 22 Tahun, Mungkinkah
Saat ini, ada lima crane yang disiagakan untuk mengangkat balok-balok runtuhan secara bertahap.
Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:
Versi Android
Versi iOS
Channel Whatsapp
Fanpage Edugov
"Itu sudah dijelaskan kepada keluarga dan oleh karena itu keluarga juga setuju untuk penggunaan alat berat. Penggunaan alat berat pun akan digunakan dengan sangat-sangat hati-hati," tegas Pratikno.***




