POJOKSATU.id — Badan Gizi Nasional (BGN) tengah menjadi sorotan publik setelah serangkaian kasus keracunan massal akibat menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di beberapa daerah.

Berdasarkan catatan Koalisi Masyarakat Sipil, hingga akhir September 2025, sedikitnya 6.432 orang dilaporkan mengalami keracunan akibat menu MBG.

BGN, lembaga yang dibentuk oleh mantan Presiden Joko Widodo, dipimpin oleh Dadan Hindayana dengan dukungan wakil kepala dan sejumlah pejabat eselon satu.

Namun, profil pejabat BGN menunjukkan dominasi latar belakang militer. Tercatat setidaknya lima pensiunan Tentara Nasional Indonesia (TNI) menduduki posisi strategis.

Baca Juga: Prabowo Dan Global South

Mayor Jenderal TNI (Purnawirawan) Lodewyk Pusung menjabat sebagai Wakil Kepala BGN, dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto pada 21 Oktober 2024.

Brigadir TNI (Purnawirawan) Sarwono menjadi Sekretaris Utama BGN, sebelumnya menjabat sebagai Direktur Bela Negara Kementerian Pertahanan.

Posisi Inspektur Utama dipercayakan pada Brigadir Jenderal TNI (Purnawirawan) Jimmy Alexander Adirman.

Dua nama lain, Brigadir Jenderal TNI (Purnawirawan) Suardi Samiran dan Mayor Jenderal TNI (Purnawirawan) Dadang Hendrayudha, mengisi posisi deputi dalam struktur pelaksana BGN.

Mereka tercatat sebagai anak buah Prabowo Subianto saat bertugas di Kementerian Pertahanan.

Baca Juga: Siap Pakai: 3 Contoh Prompt Google Veo 3 Berbahasa Indonesia untuk Bikin Video AI Realistis

Sementara itu, dua deputi lainnya diisi oleh profesional sipil, yakni Igor Pangaribuan, eks Direktur SDM PT Timah sebagai Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola, serta Nyoto Suwignyo, mantan pejabat Badan Pangan Nasional sebagai Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama BGN.

Dominasi latar belakang militer di BGN menimbulkan pertanyaan publik. Apakah pengalaman militer cukup untuk menangani urusan gizi nasional?

Di TNI, anggota memang dibekali pengetahuan dasar tentang gizi, terutama untuk kebutuhan praktis seperti menjaga stamina, kebugaran fisik, dan kesiapan tempur.

Mereka mempelajari jumlah kalori, protein, karbohidrat, cairan, manajemen logistik makanan di medan operasi, dan cara menyiapkan makanan siap saji yang aman dan cukup energi.

Namun, pendidikan ini tidak setara dengan pendidikan formal gizi yang mendalam.

Baca Juga: DOWNLOAD CONTOH SOAL UTS - Bagian 2 - Matematika Kelas 7 SMP Lengkap dengan Kunci Jawaban dan Pembahasan

Ahli gizi profesional, lulusan S1 atau S2 Gizi/Kedokteran Gizi, mendapatkan pembekalan komprehensif mengenai nutrisi, metabolisme, penyakit terkait gizi, kebijakan, dan manajemen gizi masyarakat.

Mereka mampu merancang program gizi, mengevaluasi status gizi populasi, dan menyusun pedoman makanan sehat — hal-hal yang menjadi inti pekerjaan di BGN.

Dengan kata lain, perwira militer mungkin dapat memberi masukan soal stamina, kesiapan fisik, dan logistik makanan, tetapi penanganan masalah gizi nasional membutuhkan kompetensi akademik dan praktis seorang ahli gizi.

Oleh karena itu, tanpa latar belakang tambahan di bidang gizi, pengalaman militer saja belum cukup.***

Semoga informasi ini bermanfaat.

Silakan beri tanggapan di kolom komentar dan bantu sebar informasi ini.

Akses artikel bisa dibaca melalui apps kami (buat link hidup):
Versi Android
Versi iOS
Channel WhatsApp
Fanpage Edugov
Baca artikel menarik lainnya dari penulis: Salsabila Azahra