POJOKSATU.id — Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan kuat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Hal ini menyebabkan konsekuensi besar bagi perekonomian nasional.

Pada 26 September 2025, rupiah sempat menembus level psikologis Rp16.700 per dolar AS, selanjutnya berakhir pada posisi Rp16.725 per dolar AS.

Meski sempat menguat tipis 0,06 persen di penghujung perdagangan, posisi ini tetap tercatat sebagai yang terendah sejak April 2025.

Tekanan terhadap rupiah sebenarnya sudah mulai terlihat sejak Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada 20 Agustus 2025.

Baca Juga: Siswi SMAN 1 Kabanjahe yang Minum Racun Imbas Depresi Dihina Oknum Guru BK Miskin Berakhir Pindah Sekolah

Saat itu, rupiah melemah dari Rp16.190 per dolar AS menjadi Rp16.500 per dolar AS.

Situasi semakin pelik setelah BI kembali menurunkan bunga pada September, bersamaan dengan langkah serupa yang diambil The Federal Reserve (The Fed).

Kondisi pelemahan ini otomatis membuat biaya impor semakin mahal.

Sebab, mayoritas transaksi impor Indonesia masih menggunakan dolar AS.

Saat kurs melampaui Rp16.700 per dolar, beban yang ditanggung importir jauh lebih tinggi dibanding ketika rupiah masih berada di bawah level tersebut.

Baca Juga: Hari Ketiga Pencarian, Korban Tenggelam di Kalimalang Karawang Ditemukan

Sektor usaha yang sangat bergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri pun langsung merasakan dampaknya.

Misalnya, industri makanan dan minuman yang membutuhkan gandum, kedelai, hingga gula impor harus menanggung biaya produksi lebih besar.

Margin keuntungan pun menyempit. Jika perusahaan memilih menahan harga jual agar tidak kehilangan konsumen, keuntungan akan terkikis.

Sebaliknya, jika harga dinaikkan, daya beli masyarakat bisa tertekan.

Risiko lain juga membayangi perusahaan yang memiliki kewajiban utang dalam denominasi dolar AS.

Baca Juga: Hari Ketiga Pencarian, Korban Tenggelam di Kalimalang Karawang Ditemukan

Setiap pelemahan rupiah berarti tambahan beban untuk membayar cicilan pokok dan bunga.

Kondisi ini menekan arus kas sekaligus mempersempit ruang ekspansi usaha.

Apabila tren pelemahan rupiah terus berlanjut, efek yang lebih luas tidak terhindarkan.

Lonjakan harga barang konsumsi dapat menekan daya beli rumah tangga, sementara industri terbebani biaya bahan baku yang kian tinggi.

Kombinasi tekanan ini pada akhirnya bisa menghambat pertumbuhan ekonomi nasional.***