POJOKSATU.id, JAKARTA-- Kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) Pemerintahan Prabowo-Gibran harus segera dievaluasi.

Kasus keracunan MBG yang terus-terusan terulang harus menjadi perhatian serius. Semua pihak yang terlibat MBG harus duduk bersama mengatasi ini.

Persoalan ini harus mendapat sorotan dari berbagai kalangan, termasuk akademisi dan DPR RI.

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, menilai peristiwa berulang ini harus segera dievaluasi.

Baca Juga: Viral Istri Wapres Punya Koleksi Jam Tangan Mewah Rolex, Ada yang Harganya Rp 630 Juta

Menurutnya, perlu ada keseriusan pemerintah bersama lembaga terkait agar program strategis ini berjalan sesuai harapan.

“Pentingnya ada evaluasi yang saya kira memang harus duduk bersama antara berbagai pihak terutama kawan-kawan yang ada di Badan Gizi Nasional dan yang ada di DPR. Tujuannya adalah mencari solusi, mencari titik temu supaya tidak terjadi persoalan semacam ini lagi,” ujar Adi lewat kanal Youtube miliknya, Senin, 22 September 2025.

Ia menambahkan, salah satu solusi yang bisa ditempuh adalah menggandeng pihak kantin sekolah agar menu makanan yang disiapkan selalu segar.

Selain itu, muncul pula usulan alternatif dari anggota DPR agar dana program langsung diberikan kepada orang tua.

Baca Juga: Kompol Anggraini Putri Disebut Terima Rp 50 Juta per Bulan dari Irjen KM, Dapat Apartemen di Kemang

Dengan begitu, keluarga bisa menyiapkan sendiri makanan sesuai anggaran yang telah ditetapkan, sehingga risiko keracunan dapat dihindari.

Meski begitu, semua pihak sepakat bahwa program makanan bergizi gratis merupakan kebijakan yang hebat.

Program ini telah mengalokasikan anggaran besar dengan tujuan memberikan asupan gizi melimpah bagi para pelajar.

“Ini yang saya kira kita doakan, program yang cukup hebat dari pemerintah yang menggunakan anggaran dana luar biasa. Pada level teknis dan implementasi sesuai harapan kita semua. Sehingga siswa yang menerima makanan ini juga mendapat asupan gizi kecukupan untuk mendukung nalar dan intelektual mereka,” katanya.***