POJOKSATU.id, PROBOLINGGO— Kecelakaan bus PO Inds’ 88 yang berisi pegawai RS Bina Sehat Jember di jalur Bromo menyebabkan delapan orang meninggal dunia dan 47 lainnya mengalami luka-luka.
Sopir bus PO Inds’88, Albahri, menceritakan detik-detik sebelum terjadinya kecelakaan di Jalan Raya Sukapura, Botoh, Lumbang, Probolinggo, Minggu (14/9) siang.
Sopir dan kernet bus sudah tahu bus mengalami rem blong sejak dari kawasan Jatian Desa Botoh.
Baca Juga: Hendra Tewas Bersama Istri dan Anak di Kecelakaan Bus Bina Sehat, Ini Identitas 8 Korban Meninggal
Sopir berusia 57 tahun ini mengaku sudah mencoba memperlambat laju bus yang berisi sekitar 55 penumpang ini dengan menepi ke pinggir jalan.
“Sampai di Jatian itu rem sudah terasa tidak enak. Akhirnya saya ke pinggir pelan-pelan. Malah sama pengendara di belakang saya itu sampai di klakson dan saya juga ikut klakson,” ujar Albahri.
Albahri lalu meminta kondekturnya, Melo, untuk berjaga-jaga.
“Sudah kerasa tidak enak, jadi saya langsung suruh Melo ke belakang dan bilang kalau rem blong,” katanya.
Saat bus melewati jalan menurun dan menikung, kondisi semakin genting.
Baca Juga: Kronologi Kecelakaan Bus Bina Sehat di Probolinggo Tewaskan 8 Orang, Sopir Sebut Alami Rem Blong
Albahri mengaku tak bisa lagi mengendalikan bus yang dikendarainya meskipun sudah mencoba rem angin maupun rem utama.
Disebabkan itu, dia langsung membanting bus ke kanan jalan karena di depan saat itu kosong atau tidak ada kenderaan dari arah berlawanan.
“Kalau ke kiri banyak kendaraan, ada mobil dan sepeda motor. Rem angin juga saya fungsikan tapi tidak bisa, saya juga sudah pasrah,” katanya.
“Padahal kondisi bus saat berangkat dan bahkan saat pulang sebelum sampai di Jatian masih aman, tidak ada masalah apa-apa. Tiba-tiba ngeblong dan angin langsung habis,” jelasnya lagi.***




