POJOKSATU.ID - Presiden Prabowo Subianto akhirnya melakukan reshuffle pertama dalam Kabinet Merah Putih sejak dilantik Oktober 2024 lalu.
Perombakan besar ini resmi diumumkan Senin sore di Istana Negara, menandai babak baru arah pemerintahan, khususnya di bidang ekonomi.
Salah satu keputusan paling mengejutkan adalah penunjukan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani Indrawati.
Baca Juga: Wujudkan Rumah Pertama dengan KPR Sejahtera FLPP BRI
Pergantian ini sontak menjadi sorotan publik lantaran posisi Menkeu dianggap vital dalam menjaga stabilitas fiskal negara, terlebih di tengah gejolak ekonomi global.
Sri Mulyani, yang sudah lebih dari 19 tahun menjadi wajah kebijakan keuangan Indonesia sejak era Presiden Joko Widodo, akhirnya harus melepas jabatannya.
Banyak pengamat menilai langkah ini sebagai sinyal perubahan arah kebijakan fiskal di bawah pemerintahan Prabowo.
Perombakan Kabinet
Pengumuman reshuffle dibacakan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi. Ia menegaskan bahwa Presiden Prabowo melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja kabinet sebelum mengambil keputusan.
Baca Juga: HBO Hidupkan Kembali Karakter yang Hilang di Film Harry Potter, Siapa Saja?
“Presiden memutuskan melakukan perubahan dalam Kabinet Merah Putih, termasuk di Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Kementerian Keuangan, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Koperasi, serta Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia,” ujar Prasetyo dalam keterangan persnya, Senin (8/9/2025).
Selain rotasi, Prabowo juga meluncurkan nomenklatur baru: Kementerian Haji dan Umrah, yang sebelumnya hanya berbentuk Badan Pengelola Haji (BP Haji).
Kehadiran kementerian ini menandai penguatan peran pemerintah dalam pelayanan ibadah haji.
Profil Purbaya Yudhi Sadewa: Dari Schlumberger ke Kursi Menkeu
Purbaya lahir di Bogor, 7 Juli 1964. Latar belakangnya unik, memadukan sains, industri, dan ekonomi.
Baca Juga: Jepang Krisis Populasi, Lowongan Kerja Dibuka untuk Lulusan SMA dan SMK Indonesia
Alumni Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) ini kemudian melanjutkan studi hingga meraih gelar doktor ekonomi di Purdue University, Amerika Serikat.
Karier profesionalnya dimulai di sektor migas sebagai Field Engineer Schlumberger Overseas SA (1989–1994), lalu menanjak menjadi ekonom senior di Danareksa.
Purbaya kemudian menjabat Chief Economist Danareksa Research Institute (2005–2013) dan Direktur Utama PT Danareksa Securities (2006–2008).
Baca Juga: Info Pencairan TPG Triwulan 3: Jadwal Penarikan Data di Info GTK Bagi Penerima!
Di pemerintahan, ia malang melintang:
1. Staf Khusus Bidang Ekonomi Kemenko Perekonomian (2010)
2. Anggota Komite Ekonomi Nasional (2010–2014)
3. Deputi di Kantor Staf Presiden dan Kemenko Marves (2015–2020)
4. Hingga akhirnya menjadi Ketua Dewan Komisioner LPS (2020–2025).
Baca Juga: Dana BOS untuk Gaji Honorer Dipangkas, Menurut JPPI Nasib Guru Kian Suram
Dengan bekal itu, Purbaya kini dipercaya mengendalikan “jantung fiskal” Indonesia.
Tantangan Berat: Stabilitas Fiskal dan Kepercayaan Publik
Tugas pertama Purbaya bukan hal ringan. Ia harus mengendalikan defisit anggaran, menjaga penerimaan negara, sekaligus memastikan kebijakan fiskal tetap menopang pertumbuhan ekonomi.
“Publik akan membandingkan Purbaya dengan Sri Mulyani. Reputasi Sri Mulyani sudah mendunia, sehingga Purbaya perlu segera menunjukkan arah kebijakan baru yang kredibel,” ujar pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, dalam keterangan tertulis.
Selain tantangan eksternal seperti fluktuasi harga komoditas dan ketidakpastian global, Purbaya juga harus mengawal prioritas domestik: pembiayaan infrastruktur, reformasi pajak, hingga penguatan perlindungan sosial.
Harta Kekayaan Rp 39,21 Miliar
Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), Purbaya tercatat memiliki total kekayaan Rp 39,21 miliar.
Asetnya meliputi tanah dan bangunan di Jakarta Selatan senilai Rp 30,50 miliar, sejumlah mobil mewah seperti BMW Jeep 2019, Toyota Alphard 2019, hingga Peugeot 5008, serta motor Yamaha XMAX dan Honda Vario.
Selain itu, ia juga memiliki surat berharga Rp 220 juta dan kas Rp 4,20 miliar. Menariknya, Purbaya melaporkan tidak memiliki utang sama sekali.
Reshuffle ini menandai fase penting dalam pemerintahan Prabowo. Dengan menempatkan Purbaya di kursi Menteri Keuangan, publik menunggu gebrakan baru dalam kebijakan fiskal, terutama apakah akan lebih pro-pertumbuhan atau tetap menjaga disiplin anggaran ketat ala Sri Mulyani.
Satu hal yang pasti, perjalanan ekonomi Indonesia lima tahun ke depan kini berada di tangan seorang ekonom yang terbiasa bekerja di balik layar, namun kini tampil sebagai tokoh utama di panggung politik nasional. ***




