POJOKSATU.ID - Menteri Keuangan Sri Mulyani baru-baru ini mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II tahun 2025 tumbuh 5,12 persen.
Menurut Sri Mulyani, permintaan konsumsi rumah tangga tumbuh 4,97 persen, didukung oleh inflasi yang terjaga di angka 2,18 persen.
Lebih lanjut Sri Mulyani menambahkan bahwa ekonomi Indonesia yang bertumbuh ini seiring belanja masyarakat meningkat.
Baca Juga: CEK Fakta! Apakah Benar TPG Triwulan 3 akan Dicairkan Lebih Cepat?
Terutama dari sektor transportasi, restoran, dan akomodasi karena adanya libur sekolah dan hari besar keagamaan.
Di sisi lain, seorang pelaku UMKM yang berlokasi di Salatiga, Jawa Tengah justru memperlihatkan keadaan yang berbeda dengan ucapan Menteri Keuangan.
Usaha yang dijalaninya lesu, ekonomi yang katanya tumbuh, tapi rakyat kecil tak pernah merasakan pertumbuhan tersebut.
Baca Juga: Polisi Tangkap Pelajar Membawa Anak Panah Saat Akan Demonstrasi di Gedung DPR
"Ada yang sama gak, dua atau tiga bulan, enam bulan ini lah, masuk 2025 itu sangat-sangat berbeda banget dari tahun kemarin, mau buat muter aja susah banget Ya Allah sepi", ucapnya, dikutip POJOKSATU.ID dari akun TikTok @erenshop_salatiga, 9 Agustus 2025.
Usaha toko kelontong yang menyediakan beragam kebutuhan rumah, dari mulai perabotan, snack, kosmetik, dan juga sembako, terlihat sepi pembeli.
Ia mengaku telah bertahan selama 10 tahun, tapi baru kali ini merasakan penurunan penjualan yang sangat drastis.
Padahal saat pandemi lalu, penjualannya menurun tapi tidak separah seperti tahun sekarang.
Bahkan untuk balik modal terasa sangat sulit, meskipun jam operasionalnya semakin diperpanjang hingga malam hari.
Pelaku UMKM lain yang berlokasi di Jakarta mengungkapkan hal serupa, usaha service ponsel dan berbagai aksesoris lainnya juga mengalami penurunan penjualan.
Baca Juga: Samsung Galaxy Tab S10 Lite, Tablet Jajaran Premium yang Tepat untuk Pelajar dan Mahasiswa
Menurutnya, kini masyarakat lebih fokus membeli kebutuhan pokok, dibanding membeli kebutuhan sekunder yang tidak terlalu penting.
Ekonomi masyarakat yang sulit diduga jadi faktor utama daya beli konsumen menurun drastis.
Namun, ada yang menduga kemungkinan masyarakat telah beralih membeli barang dengan sistem online.
Sehingga transaksi jual beli antara pedagang dan konsumen tak terlihat lagi di toko-toko.***




