POJOKSATU.ID — Pemerintah terus mengandalkan dana abadi pendidikan dan skema insentif pajak sebagai strategi utama untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi nasional.

Hingga 2025, sebanyak 670.000 penerima manfaat telah terbantu dari dana abadi pendidikan, termasuk lebih dari 3.000 mahasiswa Indonesia yang berhasil menembus universitas kelas dunia seperti MIT, Harvard, Oxford, Cambridge, dan Stanford.

Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati menyampaikan, keberhasilan tersebut menunjukkan efektivitas pengelolaan dana abadi oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dalam mencetak talenta global yang memperkuat daya saing Indonesia di tingkat internasional.

Baca Juga: Presiden Prabowo: Perayaan HUT ke-80 RI Digelar Sederhana, Fokus Utama Masih Pekerjaan untuk Rakyat

“Riset-riset strategis bangsa tidak boleh lagi terganjal pendanaan. Ekosistem inovasi harus kuat dari hulu ke hilir,” ujarnya dalam Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Institut Teknologi Bandung, Kamis (7/8/2025).

Selain dana pendidikan, pemerintah juga telah mengalokasikan Dana Abadi Penelitian sebesar Rp12,99 triliun dan Dana Abadi Perguruan Tinggi Rp10 triliun.

Total lebih dari 2.700 proyek riset telah menerima pendanaan, mencakup sektor-sektor strategis seperti semikonduktor, pertanian presisi, dan energi baru terbarukan.

Baca Juga: Kolaborasi Jiwa Jepang dan Nafas Jawa Dalam Kanvas 'Dunia Dalam Damai'

Sebagai penguat peran dunia usaha dalam inovasi, pemerintah juga menjalankan kebijakan super tax deduction.

Skema ini memungkinkan perusahaan mengklaim pengurangan pajak hingga tiga kali lipat dari nilai investasi mereka di bidang riset dan pengembangan (R\&D).

“Jika perusahaan mengalokasikan Rp1 miliar untuk riset, maka mereka bisa mendapatkan pengurangan pajak hingga Rp3 miliar. Ini adalah peluang besar untuk mendorong industri berperan aktif dalam inovasi nasional,” jelas Sri Mulyani.

Baca Juga: LBH Arya Mandalika Minta Polisi Bongkar Praktik Kotor Mafia Proyek di Dinas PUPR Karawang

Meski capaian dinilai signifikan, ia menekankan pentingnya akuntabilitas dalam implementasi kebijakan. Menurutnya, anggaran besar harus tepat sasaran dan berdampak langsung terhadap kualitas dan daya saing nasional.

“Kita harus memastikan apakah anggaran besar ini benar-benar menjadi penghargaan atas prestasi, atau justru dibagi rata tanpa arah yang jelas. Insentif harus tepat sasaran,” tegasnya.

Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:

Versi Android
Versi iOS
Channel Whatsapp
Fanpage Edugov

Sri Mulyani menutup sambutan dengan harapan agar Indonesia kelak mampu melahirkan lebih banyak penerima Nobel, menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai tulang punggung pembangunan nasional. ***