POJOKSATU.id, JAKARTA—Lakban kuning yang melilit kepala Arya Daru Pangayunan (39) ternyata barang biasa bagi Diplomat Kemlu.
Lakban ini penanda tas atau barang mereka di bandara saat bepergian keluar negeri.
Kasubbid Penmas Polda Metro Jaya, AKBP Reonald Simanjuntak mengatakan, lakban kuning identik dengan lakban yang biasa digunakan pegawai Kemlu yang hendak dinas ke luar wilayah.
Reonald dalam program Kabar Petang Kompas TV, Minggu (27/7/2025) menyebutkan, lakban kuning biasa digunakan oleh pegawai Kemlu apabila mendapat tugas ke luar negeri.
Baca Juga: Daftar Pejabat Madina dan Sumut Diperiksa KPK Dugaan Korupsi Pembangunan Jalan 2023-2025
“Jadi itu lakban kuning sebagai penanda, biar barang mereka terlihat jelas," ujar Reonald.
Lakban kuning yang berada di kamar Arya ini dibeli bersama sang istri pada Juni 2025, sebulan sebelum ADP tewas. Lakban ini untuk keperluan pengepakan barang korban dan keluarga.
"Lakban kuning tersebut berdasarkan keterangan istri korban, dibeli bersama dengan istrinya di salah satu toko di Yogyakarta," kata Reonald Simanjuntak.
Namun yang menjadi pertanyaan, apakah lakban kuning ini sengaja dililitkan oleh korban atau ada pihak lain yang melilitkan lakban ini ke kepala korban.
Baca Juga: Penyidik Polda Metro Jaya Temukan Tas Ransel Milik Arya Daru di Gedung Kemlu, Ponsel Masih Hilang
Tas Ransel Berisi Rekam Medis
Tas ransel milik Arya Daru Pangayunan ditemukan penyidik Polda Metro Jaya di samping tangga darurat lantai 12 gedung Kemlu. Tas ini berisi rekam medis korban.
Rekam medis ini berbunyi tentang rawat jalan dari penyakit yang dialami oleh korban Arya Daru dari salah satu rumah sakit umum di Jakarta.
Diketahui dari keterangan istrinya, Arya Daru punya penyakit asam lambung dan kolestrol tinggi.
Baca Juga: Fakta Terbaru Ponsel Arya Daru Hilang Bak Ditelan Bumi, Terakhir Aktif Sebelum ke Gedung Kemlu
Ponsel Masih Hilang
Sejauh ini, kepolisian belum menemukan satu barang bukti digital yakni ponsel atau Hp milik Arya Daru.
Menurut Sosiolog Kriminalitas Soeprapto, ponsel yang hilang merupakan sebuah pertanda buruk dalam kasus ini.
“Bahwa ada orang lain yang mengusik kehidupan korban di malam nahas itu. Kita tidak tahu handphone itu diambil siapa, tapi jelas tentang adanya pihak luar yang terlibat, terutama yang berkepentingan agar isi handphone tidak terbaca siapapun,” tegas mantan Dosen UGM ini.***




