POJOKSATU.ID- Wakil Walikota Serang, Banten, Nur Agis Aulia, ditilang Satlantas Polresta Serang Kota, karena melanggar aturan lalu lintas.

Kejadian ini menarik perhatian publik, karena penilangan dilakukan setelah fotonya viral di media sosial.

Insiden yang terjadi pada Senin, 14 Juli 2025 ini menjadi sorotan karena melibatkan pejabat publik yang seharusnya memberikan teladan bagi masyarakat.

Pelanggaran terjadi ketika Nur Agis Aulia mengantar kedua anaknya ke SDN 02 Kota Serang pada hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Ia mengendarai sepeda motor Honda Beat berwarna hitam dengan nomor polisi A 5357 CN sambil membonceng dua anak sekaligus tanpa mengenakan helm keselamatan.

Sanksi Hukum yang Diterima Wakil Walikota Serang

Baca Juga: Berani Ambil Peluang, Jangan Lupa Siapkan Perisai: Cara Mudah Mengevaluasi Risiko Usaha

Kepala Satuan Lalu Lintas Polresta Serang Kota Kompol Tiwi Afrian membenarkan penilangan tersebut. Hal ini sebagaimana dilansir dari Antara News.

Polisi menjeratnya dengan Pasal 291 dan Pasal 292 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Pasal 291 mengatur kewajiban menggunakan helm berstandar nasional bagi pengendara dan penumpang motor, dengan ancaman kurungan satu bulan atau denda maksimal Rp250.000.

Sementara Pasal 292 mengatur larangan membonceng lebih dari satu orang tanpa kereta samping, dengan ancaman hukuman serupa.

Tindakan penilangan ini dilakukan setelah petugas mendatangi kantor Nur Agis di Kawasan Pusat Pemerintahan Kota (Puspemkot) Serang.

Sikap Sportif: Mengakui Kesalahan dan Meminta Ditilang

Baca Juga: Kisah Inspiratif Gadis Waingapu NTT yang Pergi dari Rumah setelah Lulus SMA, Kini Raih Beasiswa Turki

Satu hal yang juga membuat kasus ini menarik perhatian positif adalah sikap sportif Nur Agis Aulia.

Ia tidak mengelak dan mengakui kesalahannya dengan lapang dada. Bahkan, ia meminta agar aparat kepolisian tetap memberikan sanksi sebagai bentuk tanggung jawabnya atas pelanggaran yang dilakukan.

Agis pun secara terbuka meminta maaf dan meminta pihak kepolisian untuk menilangnya, menunjukkan integritas dan kejujuran sebagai pejabat publik.

Sikap ini menuai pujian dari berbagai kalangan masyarakat yang menilai tindakannya sebagai bentuk keteladanan dalam menerima konsekuensi atas kesalahan.

Profil Inspiratif Nur Agis Aulia: Dari Sarjana Cumlaude ke Pengusaha Pertanian

Nur Agis Aulia lahir pada 21 April 1989 di Serang, Banten. Ia merupakan lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada (FISIPOL UGM) jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan dengan predikat cumlaude.

Baca Juga: Kisah Inspiratif Gadis Waingapu NTT yang Pergi dari Rumah setelah Lulus SMA, Kini Raih Beasiswa Turki

Sebelum terjun ke dunia politik, ia sempat bekerja di BUMN PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Persero.

Alumni Tanoto Scholar atau penerima beasiswa Tanoto Foundation dari Universitas Gadjah Mada ini, menemukan kembali semangatnya ketika mengingat kalimat berikut:

"Don't give up without a fight." Hal inilah yang menjadi motto hidupnya dalam menghadapi berbagai tantangan.

Perjalanan Karir: Dari BUMN ke Jawara Farm

Meskipun memiliki kesempatan berkarir cemerlang di BUMN, Nur Agis Aulia memilih jalan yang berbeda.

Ia memutuskan untuk pulang ke kampung halaman dan mendirikan Jawara Farm pada tahun 2014 di Desa Waringin Kurung, Kabupaten Serang, Banten.

Keputusan ini dilatarbelakangi oleh keprihatinannya melihat kondisi petani di daerahnya yang hidupnya tidak sejahtera, padahal memiliki potensi pertanian yang sangat baik.

Melalui Jawara Farm, ia mengenalkan konsep baru kepada masyarakat bahwa petani bisa hidup sejahtera dengan mendapatkan penghasilan harian, mingguan, dan bulanan.

Inovasi dalam Pemberdayaan Petani

Baca Juga: Kemenag Resmi Lepas Tanggung Jawab Penyelenggaraan Haji Tahun 2026!

Konsep yang diusung Agis sangat revolusioner untuk zamannya. Ia mengenalkan alternatif mendapatkan penghasilan yang lebih cepat tanpa harus menunggu masa panen padi yang biasanya 3-4 bulan sekali.

Petani diajak untuk memelihara kambing perah yang bisa menghasilkan susu setiap hari, serta menanam sayuran yang bisa dipanen dalam waktu 1-2 minggu.

Kombinasi kemampuan budidaya dan kemampuan pemasaran produk yang diajarkan Agis telah berhasil meningkatkan kesejahteraan petani dan peternak di daerahnya.

Minat anak muda terhadap pertanian dan peternakan pun mulai tumbuh dengan adanya konsep manajemen pertanian modern yang diperkenalkannya.

Ekspansi dan Dampak Global

Kini Jawara Farm telah berkembang pesat. Agis rutin mengadakan pelatihan budidaya dan manajemen pertanian baik secara tatap muka maupun daring.

Yang mengagumkan, peserta pelatihannya tidak hanya dari Indonesia, tetapi juga dari luar negeri seperti Korea Selatan, Jepang, dan Malaysia. Bahkan peserta dari Malaysia sudah melakukan kunjungan langsung ke tempatnya.

Baca Juga: Ibrahim Arief Tersangka Korupsi Laptop Chromebook Lulusan S2 Finlandia, Tolak Berkarier di London

Karir Politik dan Jabatan Publik

Dalam dunia politik, Nur Agis Aulia tergabung dalam Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan menjabat sebagai Ketua Departemen Karir dan Kewirausahaan Bidang Kepemudaan DPP PKS.

Pada pemilihan umum legislatif Indonesia 2019, ia maju pada Daerah Pemilihan (Dapil) 2 Kota Serang yang meliputi kelurahan Serang, Cimuncang, Cipare, Kota Baru, Kagungan, dan Lontar Baru.

Kini ia menjabat sebagai Wakil Wali Kota Serang, posisi yang memberikannya kesempatan untuk menerapkan visi pembangunan berkelanjutan yang telah ia buktikan melalui Jawara Farm.

Pelajaran dari Kasus Tilang: Pentingnya Keselamatan Berkendara

Kasus tilang yang menimpa Nur Agis Aulia memberikan pelajaran penting tentang pentingnya keselamatan berkendara, terutama bagi anak-anak.

Kompol Tiwi Afrian mengimbau seluruh masyarakat untuk selalu mematuhi aturan lalu lintas dan menjaga keselamatan berkendara.

Baca Juga: Ruwatan Bumi Parakan Garokgek: Tradisi Syukur Panen yang Kini Resmi Jadi Warisan Budaya Purwakarta

"Mari kita bersama-sama menciptakan jalan yang berkeselamatan di wilayah hukum Polresta Serang Kota untuk mengurangi fatalitas kecelakaan lalu lintas," tegasnya sebagaimana dilansir dari Antara News.

Sikap sportif dan mengakui kesalahan yang ditunjukkan Nur Agis Aulia justru menjadi contoh positif bagaimana pejabat publik seharusnya bertanggung jawab atas tindakannya.

Dampak Positif dari Transparansi dan Akuntabilitas

Insiden ini menunjukkan bahwa tidak ada yang kebal hukum, termasuk pejabat publik. Sikap transparan dan akuntabel yang ditunjukkan Nur Agis Aulia dalam menghadapi kesalahan justru meningkatkan kredibilitasnya di mata masyarakat.

Ini menjadi bukti bahwa seorang pemimpin sejati adalah yang berani mengakui kesalahan dan siap menerima konsekuensinya.

Nur Agis Aulia membuktikan bahwa kepemimpinan yang autentik bukan berarti tanpa kesalahan, tetapi tentang bagaimana merespons kesalahan dengan bijak dan bertanggung jawab.

Semoga kejadian ini dapat menjadi momentum untuk lebih meningkatkan kesadaran akan pentingnya keselamatan berkendara di seluruh Indonesia.***