POJOKSATU.id, LOMBOK—Istri Brigadir Muhammad Nurhadi, Elma, tak percaya suaminya main perempuan dan memakai narkoba seperti tuduhan penyidik Polda NTB yang menangani kasus ini.
Elma tidak percaya suaminya meninggal dalam hal-hal negatif seperti yang disebutkan dalam keterangan polisi.
Menurut Elma, Brigadir Nurhadi merokok saja tidak bisa, konon lagi memakai obat-obatan dan minuman keras.
“Merokok saja dia tidak bisa, apalagi memakai obat-obatan dan minum minuman keras. Itu sama sekali tidak benar. Saya merasa dia dicekoki, dipaksa,” kata Elma di rumahnya di Desa Sembung Narmada, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Jumat (11/7).
Keluarga Nurhadi dikenal berkehidupan sederhana. Nurhadi dan Elma dikaruniai dua anak laki-laki. Anak pertama usia lima tahun dan anak kedua baru berusia empat bulan.
Sementara kakak Nurhadi yaitu Dewi mengatakan, Nurhadi tidak mungkin melakukan perbuatan seperti menggoda perempuan, memakai narkoba, atau mabuk seperti yang dituduhkan penyidik polisi.
Mereka menduga jika ada keterlibatan Nurhadi dalam kejadian tersebut, besar kemungkinan ia dipaksa.
Nurhadi adalah anak yatim yang berjuang keras hingga menjadi anggota kepolisian. Kematian Nurhadi menjadi pukulan berat bagi orang-orang terdekatnya.
Baca Juga: Tugas Arya Daru Pangayunan di Kemlu Ternyata Penting Soal Evakuasi Anak WNI dari Luar Negeri
Brigadir Nurhadi dalam lingkup keluarganya dikenal pendiam dan taat beribadah.
Tak Bisa Dihubungi Usai Magrib
Nurhadi berpamitan bahkan sempat bercanda kepada istrinya. Ia ditugaskan untuk mengantar Kasubid Paminal, Kompol I Made Yogi Purusa Utama, ke Gili Trawangan, Lombok.
Elma mengenang momen terakhir bersama suaminya, termasuk video call terakhir yang terjadi pada Rabu, 16 April 2025, sekitar pukul 16.00 Wita.
“Begitu dia sampai di Gili Trawangan, di dalam kamar dia video call. Dia tanyakan anak-anak, tidak ada masalah apa-apa, sama sekali tidak ada,” ujar Elma dilansir kompascom.
“Waktu dia video call, dia kelihatan masih segar dan sehat,” lanjutnya.
Sekitar satu jam setelah itu, anaknya yang berusia 5 tahun mencoba menghubungi Nurhadi kembali setelah Maghrib, namun tidak mendapat jawaban.
“Anak saya menelepon sekitar tiga kali, aktif tapi tidak diangkat-angkat. Akhirnya datang kabar buruk itu pada Kamis, 17 Mei 2025, pukul 02.00 Wita,” kata Elma istri Brigadir Muhammad Nurhadi.***



