POJOKSATU.id, Karawang — Upaya Indonesia untuk menjadi pemain utama dalam industri kendaraan listrik (EV) kian nyata.

PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) bersama Indonesia Battery Corporation (IBC) menggandeng mitra global Contemporary Brunp Lygend (CBL) untuk membangun ekosistem baterai terintegrasi dari hulu hingga hilir, yang diklaim terbesar di Asia Tenggara.

Presiden RI Prabowo Subianto langsung meresmikan dimulainya pembangunan pabrik baterai terintegrasi tersebut di Karawang, Jawa Barat.

Peresmian ini dihadiri sejumlah tokoh penting, termasuk Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia Wang Lutong, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, hingga jajaran direksi dari ANTAM, IBC, dan CBL.

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menegaskan pentingnya hilirisasi untuk menambah nilai tambah bagi perekonomian nasional.

“Cita-cita hilirisasi sudah sangat lama, dari sebenarnya Presiden Republik Indonesia yang pertama dari Bung Karno sudah bercita-cita hilirisasi. Dan Presiden-Presiden kita selanjutnya juga bercita-cita dan melaksanakan hilirisasi,” ucap Presiden.

Proyek ini tidak hanya menunjukkan keseriusan Indonesia dalam mendukung transisi energi bersih, tetapi juga mempertegas peran strategis Indonesia sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia.

Kepala Negara juga mengapresiasi kerja sama erat antara BUMN Indonesia dengan perusahaan teknologi global dalam pembangunan ekosistem industri baterai yang ramah lingkungan.

Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menambahkan proyek ini mendukung kemandirian energi nasional dengan mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku.

“Proyek ini juga mendukung arahan Presiden dalam mendukung kemandirian energi. Lewat proyek ini Indonesia bisa menghemat impor bahan baku energi. Selain itu, proyek ini merupakan langkah konkrit hilirisasi yang mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” tegas Bahlil.

Di sektor hulu, ANTAM bersama CBL membangun tambang nikel di Halmahera Timur yang akan menjadi pemasok utama bahan baku rantai industri baterai.

Di kawasan industri Buli (KIB), keduanya juga mendirikan pabrik RKEF dan HPAL berteknologi mutakhir, dilengkapi kawasan industri ramah lingkungan dengan dukungan energi bersih, sistem air terpadu, dan pusat kendali berbasis cloud.

Direktur Utama ANTAM Achmad Ardianto menekankan inovasi teknologi dalam proyek ini, termasuk pabrik RKEF berkapasitas 88 ribu ton nikel per tahun yang mengadopsi teknologi pemurnian otomatis feronikel pertama di dunia.

“Sejalan dengan praktik ESG, kami bersama mitra strategis bertekad menghadirkan ekosistem baterai listrik yang ramah lingkungan guna mendukung transisi energi nasional yang berkelanjutan,” ujarnya.

Di lokasi yang sama, pabrik HPAL berkapasitas 55 ribu ton nikel per tahun dibangun dengan tata letak bertingkat untuk memanfaatkan gravitasi alami, sehingga meningkatkan efisiensi aliran material.

“Kami merencanakan proyek terintegrasi yang akan memasok energi hijau ini dapat memperkuat posisi Indonesia di sektor energi global yang berkelanjutan,” tambah Ardianto.

Sementara di Karawang, IBC dan CBL sedang membangun pabrik sel baterai berkapasitas awal 6,9 GWh yang akan ditingkatkan menjadi 15 GWh dalam lima tahun ke depan.

Pabrik ini akan menjadi pusat produksi sel baterai untuk kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi (BESS) yang menyasar pasar domestik hingga ekspor.

Direktur Utama IBC Toto Nugroho menuturkan, pembangunan pabrik sel baterai ini dilengkapi lini produksi prekursor dan katoda, termasuk fasilitas pengolahan nikel sulfat hingga 16 ribu ton per tahun.

"Fasilitas hulu ini diharapkan menutup ketergantungan impor bahan baku katoda atau komponen dengan kontribusi paling signifikan dalam sel baterai, sekaligus meningkatkan nilai tambah nikel di dalam negeri," ujar Toto.

IBC, yang merupakan konsorsium PT Pertamina (Persero), MIND ID, dan PLN, bersama CBL bertekad menjadikan pabrik di Karawang sebagai ASEAN Regional Hub untuk kebutuhan baterai kendaraan listrik dan BESS.

Komitmen ini diperkuat lewat perjanjian perusahaan patungan yang telah ditandatangani.

Selain itu, proyek strategis ini juga akan menutup siklus baterai dengan membangun pabrik daur ulang berkapasitas 20 ribu ton baterai bekas per tahun.

Teknologi daur ulang yang digunakan diklaim mampu memulihkan lebih dari 95 persen logam berharga untuk diolah kembali menjadi material baterai baru, sehingga mendukung prinsip ekonomi sirkular dan menekan emisi karbon.

“Daur ulang adalah kunci keberlanjutan. Baterai yang selesai tugasnya hari ini harus kembali menjadi sumber daya esok hari,” tegas Toto.

Tak hanya berfokus pada produksi, konsorsium ANTAM-IBC-CBL juga menyiapkan program vokasi bagi masyarakat sekitar, membuka ribuan lapangan kerja baru, dan mendorong tumbuhnya UMKM pendukung industri.

Seluruh proyek dijalankan dengan standar Environmental, Social & Governance (ESG), mulai dari pengelolaan tailing tambang, penggunaan energi bersih, hingga keselamatan kerja.

“Visi kami jelas: bukan sekadar membangun pabrik, tetapi menciptakan ekosistem hijau terintegrasi yang mampu berdampak ekonomi luas sekaligus menjaga bumi,” tutup Toto.

Lewat rangkaian proyek ini, ANTAM dan IBC berharap Indonesia tidak hanya dikenal sebagai penyedia bahan mentah, melainkan juga produsen teknologi bernilai tambah tinggi di kancah industri baterai dunia.***